Jakarta, 16 Mei 2017
HATI
YANG MAMPIR MENINGGALKAN BEKAS
Aku
adalah seseorang yang haus akan pengalaman. Dari kelas 1 SMP hingga sekarang
(kuliah) aku senang bergelut di organisasi baik organisaaai formal maupun non
formal. Tujuan ku berorganisasi sejak dulu adalah ingin bertambahnya
pengalamanku dan menambah teman pastinya. Jadi tidak heran jika banyak orang
yang menganggapku seperti belut yang tidak pernah diam dan bisa didiamkan,
hehe.
Singkat
cerita aku mengikuti salah satu organisasi yang menurut ku sangat luar biasa
manfaatnya untuk diriku yaitu di organisasi Kepemimpinan (OK). Disana aku
diajarkan menjadi manusia seutuhnya dan diajarkan mengenai aqidah ku sebagai
orang Islam. Untuk memasuki organisasi tersebut tidak sembarang orang yang
mampu masuk disana, karena memang hanya orang – orang terpilih yang ada dalam
O.K. Jalan untuk masuk ke organisasi tersebut harus melalui pendidikan dan
pelatihan selama 3 hari. Aku di suguhi materi yang sangat padat namun menurut
ku sangat menantang. Kurang menyenangkannya pada saat itu adalah aku menjadi
sasaran pemateri dalam sesi tanya jawab, apa – apa aku selalu yang di tanya
padahal banyak peserta lainnya, memang pengalaman luar biasa saat itu. Kurang
lebih materi yang ku terima selama 3 hari ada 7 materi, bayangin aja ada 7
materi aku harus bisa menampung ilmu nya secara cekatan karena aku menjadi
sasaran pertanyaan pemateri. Tapi ada yang berbeda saat aku menjalani
pendidikan disana, dari 7 materi yang ku terima ada 1 materi yang menurutku gak
se strick dari materi lainnya. Pemateri tersebut bernama W.A ia mengajarkan ku
tentang konstitusi. Dia mengajariku dengan pembawaannya yang sangat santai dan
saat itu aku bisa bernafas lega (karena materi lainnya sangat menuntut ku
memperhatikannya). Pada materi inilah aku merasakan beda dari yang lainnya.
Setelah
aku melalui 3 hari tersebut, selang 1 hari ada yang mengirimkan pesan via
Whatsapp, percakapan tersebut bermula pada bulan Februari. Yang isi pesan
tersebut adalah :
“Assalamuallaikum” ujarnya
“waalaikumsalam kak” kataku
“ saya yg ngisi materi konstitusi kemarin. Saya dapet nomer anti dari Ari”
“oh iya kak, kak W.A bukan sih? Wkwk maap
lupaan kak, iya gpp kak. Ada apa ya?”
“iya betul. Saya mau menyampaikan tapi takut
lancang”
“ihh gpp kak sampaikan saja seliw2 sama saya
mah”
.....(percakapan
yang membingungan).......
“ mungkin dimulai dari sini, anti sudah ada
yang khitbah belum?” ujarnya
“ hmmm memang kenapa ya kak?” kataku
.....(percakapan
yang menyatakan dia ingin berta’aruf dengan ku).....
Sejak
itulah aku dan dia melakukan pendekatan dengan saling mengirim pesan via
whatsapp. Kita saling berkenalan satu sama lain dan juga kami selalu membahas
hal – hal yang menurutku amazing (jujur dia itu sangat pemikir dan cerdas bgt)
selang 2 minggu dia mengajak ku untuk ketemuan yaa sebenarnya niatnya ada yang
mau di omongin dan mau memberikan suatu barang sih, ok dan ajakan itu ku
terima. Sangat teringat jelas di pikiranku, saat itu aku sedang lomba di Ambon
selama 4 hari dan ku pulang hari jumat, dimana sabtunya aku ingin ketemuan
dengannya. Jujur selama ku di Ambon dia tidak pernah putus memberikan ku kabar
dan support walaupun yaaa sinyalku jelek di sana tapi dia tetap berusaha
menghubungi ku untuk mengetahui keadaanku. Sabtunya aku bertemu dengannya di
suatu tempat keramaian dekat rumah ku. Disana kita nonton bareng, makan dan
disela - sela waktu itu ia mengungkapkan isi hatinya bahwa ia tertarik dengan
diriku. Saat itu juga dia menceritakan kepribadiannya aku pun begitu. Memang
saat itu menurut ku waktu singkat yang sangat berkesan, gimana tidak selama 5
jam pertemuan, menurut ku banyak sekali ilmu yang ku dapat dari dia diluar
pembicaraan perasaan, hehe. Pertemuan itupun ia memberikanku barang yang
menjadi pengingatku saat ini padanya (faktor susah move on).
Seiring
berjalannya waktu kami terus menjaga komunikasi baik dengannya namun selang
seminggu setelah pertemuan ada yang berbeda dengan dia. Terlihat dari gaya
bahasa saat ia mengirim pesan, yang biasanyanya panjang x Lebar tapi mulai
berubah menjadi gaya bahasa yang singkat saat ia mengajak ku untuk pacaran
namun ku tolak. Setelah ajakan itu dia langsung menelpon ku dengan penjelasan
yang panjang lebar mengenai pacaran, namun ku tak terpengaruh dengannya karena
aku sudah berprinsip untuk tidak pacaran. Dengan nada memaksa ia terus
menjelaskan melalui telepon dan setelah telponanku selesai dengannya W.A
langsung mengirimkan pesan ke aku mengenai apakah aku mau menerima dia sebagai
pacarnya? Yaaa alhasil aku tolak namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya
aku menerima ajakan dia untuk berpacaran dengan ku. Jujur saja saat itu aku bener
– bener kalut karena antara logika dan hati ku tidak sejalan akhirnya aku
memutuskan menerimanya karena beberapa pertimbangan dan dukungan ibu ku yang
membuatku kuat untuk tetap menerimanya.
Setelah
aku menjadi pacaranya aku merasakan beban, entah apa yang membuatku beban,
mungkin karena berbeda dari prinsipku? Dan ditambah sikap dia ke aku berubah
drastis. Aku pun bingung menyimpulkannya apa yang dia pikirkan sebenarnya,
padahal aku sudah menjadi pacarnya tapi ternyata hubungan ku dengan dia menjadi
semakin buruk. Setelah 1 hari aku pacaran dengannya tepat pukul 17.00 WIB ia
kirim pesan ke aku via Line, percakapan itu berlangsung singkat namun itu adalah
akhir dari kedekatan ku dengannya. Pesan perpisahan tersebut berlangsung sepeti
ini
“kok aku ngerasa bersalah ya” kata W.A
“bersalah kenapa” kata ku
“kaya bukan novi aja, kaya bukan aku aja”
“hmmm gtu, bedanya dimana emang?” tanya ku
“ iya pacaran, aku jadi ngerasa bersalah
maksain kamu kemarin”
.......( percakapan betapa menyesalnya dia
mengajaku untuk berpacaran)......
Ya
memang aku sebenarnya kurang senang dengan hubungan ini, karena hubungan ini
betolak belakang sekali dengan prinsipku. Dengan panjangnya perbincangan aku dan
dia akhirnya kita memutuskan untuk kembali berteman. Perasaanku sangat campur
aduk antara sedih dan senang. Sejak itulah kami mulai berjauhan dengan alasan
ajaran kami yang tidak menganjurkan untuk berpacaran dan tidak sesuai dengan
prinsipku. Di akhir percakapan kami, dia mengatakan
“aku tetep sayang kamu tapi disimpan dulu sampe
siap datengin mama kamu gitu aja poin aku” ujarnya
“hehe iyaa aku tunggu kedatangan mu ya
insyaAllah” ujarku
..........
“Insyaallah bukan pacar nanti” ujarnya
“aminn, hehe klo pun bukan aku jodoh mu, jgn
pacari tapi nikahi kak, okray hehe”
“iya, maafin kakak ya vi mamksakan novi, aku
sudah klik kok sama kamu”
.........(percakapan berakhir dengan memutuskan
berteman).....
Apa
yang kamu rasa nov?? Aku sangat mersakan sedih dan senang, kenapa? Karena aku
jauh dan tidak secara intens dekat dengan orang yang mungkin sepemikiran dengan
ku mungkin dia terbilang perfect ya dan dia 89% memenuhi kriteria ku untuk pendamping
hidupku, tapi ada sifat yang mungkin aku tidak suka darinya. Wajar sih manusia
tidak ada yang sempurna 100%. Aku sebenarnya sudah jatuh hati padanya, aku
terbilang orang yang susah untuk jatuh hati ke lawan jenis, tapi gak tau kenapa
dia dengan mudahnya bisa meluluhkan hati ku yang keras ini.
Saat
ini aku merasakan hal yang benar – benar aku tidak sukai. Karena aku dihantui
oleh perasaan ke dia yang gak jelas. Aku selalu mengingat masa – masa manis
dengannya, padahal ku sadar banyak moment yang sudah menyakiti ku yang
dilakukan olehnya. Aku merasa senang bisa kenal dan dekat dengan sosok laki –
laki seperti dia, cerdas, gentle dan hal-hal yang membuat ku jatuh hati
padanya.
Sekarang
aku menyadari bahwa hati itu hanya mampir di hatiku namun sangat berbekas
dihati ini, dan ku berharap diberikan petunjuk oleh sang pemilik hati, jika dia
yang terbaik buat ku dekatkan dia untuk ku dan jika dia tidak baik untuk ku
jauhkan dia dariku. Dan disaat ku berusaha move on dengan usaha yang sangat
keras, jujur sangat susah untuk melupakannya. Saat aku sudah berhasil move on,
aku selalu dipertemukan dengannya yang hal itu membuat aku menangis benar –
benar menangis. Hatiku berkata “kenapa sih disaat gue dah berhasil move on, orang
itu selalu muncul di depan gue kan jadi gagal move on”. Itu terjadi tidak hanya
sekali gengs itu ku alami 3 kali berturut-turut setiap minggunya, aku gatau apa
maksud yang Allah tunjukan kepadaku, aku pun sempat berfikir “apakah ini
petunjukMu ya Rabb kalau aku harus dengannya atau ini petunjuk bahwa aku harus
berjauhan dengannya (pertemuan perpisahan)”. Dengan kondisi saat ini aku
bersyukur banyak hal positif yang ku dapati setelah aku mengalami hal yang
mungkin menyebalkan itu dan aku percaya bahwa Allah itu adil. Jodoh akan datang
pada waktu yang tepat dan tak akan tertukar. Jodoh yang akan ku dapatkan adalah
cerminan diriku. Maka dari itu aku sekarang menyibukan diriku untuk kehidupanku
dan membenahkan diriku untuk menjadi pribadi yang baik.
“setiap
detik, menit dan jam hari ini yang ku lewati selalu meninggalkan pesan untuk
hidup ku esok hari”
“Aku hanyalah manusia biasa yang hanya bisa menaruh
hatiku di sembarang hati, maka dari itu aku tak memungkiri hati ini mudah
rapuh. Disaat itu aku lupa dengan sang Pemilik Hati yang dapat menempatkan hati
ku di hati yang tepat”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar