Rabu, 24 Agustus 2016

Pengembangan Metode Pembelajaran Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (IEP)



Pengembangan Metode Pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi  Mahasiswa  Berkebutuhan Khusus Berbasis FunAct dalam Meningkatkan Daya Saing di Kancah Internasional

                                                                      ABSTRAK

Di era persaingan saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan Indonesia masih terfokus pada sistem pembelajaran  yang umum sehingga hanya dapat digunakan oleh pelajar umum biasanya, tetapi pengajar program studi Manajemen Pemasaran / Anak Berkebutuhan Khusus di Politeknik Negeri Jakarta merumuskan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) yang dapat diterapkan kepada Mahasiswa yang mempunyai keterbatasan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengembangkan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi Mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct (Syafie’i, 2005) : (i) Fun, (ii) Active, (iii)Creative. Adapun rumusan masalah penelitian adalah seperti apakah metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct? Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian pengembangan. Data dikumpulkan dengan melakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan para pengajar program studi Manajemen Pemasaran / Anak Berkebutuhan Khusus dan Psikolog. Data yang telah terkumpul selanjutnya di analisis dengan analisis kuantitatif. Hasil penelitiannya adalah metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus berbasis FunAct : (i) Membangun keceriaan agar materi mudah dipelajari, (ii)  memberikan material atau benda yang dapat merangsang keaktifan, (iii) mengarahkan keaktifannya pada potensi yang ingin diasah .Ujicoba metode pembelajaran pada mahasiswa berkebutuhan khusus Politeknik Negeri Jakarta periode Mei – Juni 2016 menunjukkan bahwa metode pembelajaran FunAct mampu meningkatkan semangat dan menciptakan keterampilan yang mampu bersaing di kancah Internasional baik berupa produk maupun jasa.
Kata Kunci    :    FunAct, Individuaized Educational Program (IEP),  Mahasiswa berkebutuhan khusus, Metodepembelajaran.



 

BAB I 

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

     Seruan International Education For All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO sebagai kesepakatan global hasil World Education Forum di Dakar, Senegal tahun 2000, penuntasan EFA diharapkan tercapai pada tahun 2015. Program ini memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh ilmu pengetahuan di sekolahumum sebagaimana yang diperoleh anak-anak normal yaitu di sekolah inklusif . Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 32 dan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 yaitu dengan memberikan peluang dan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan disekolah reguler mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan. Dasar penyusunan IEP (Individualized Educational Program) dengan penyimpangan/ kelainan baik fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi lain. Seperti tunanetra,tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,berbakat, berkesulitan belajar spesifik, autisdan penyimpangan/kelainan perilaku lainnya. Hasil penelitian Mulyono (Abdurrahman, 2009: 119) menunjukkan bahwa banyak anak luar biasa termasuk diantaranya yang berkesulitan belajar, belajar bersama anak normal di Sekolah Dasar tetapi mereka tidak memperoleh pelayanan pendidikan luar biasa. Hal tersebut menunjukkan pentingnya penerapan IEP (Individualized Educational Program) yang didefinisikan Mulyono sebagai bentuk pendidikan yangmemberikan pelayanan pendidikan luar biasadengan pelayanan pendidikan pada umumnya. Permasalahan tersebut diperkua tdengan Freiberg (1999:194) yang mengungkapkan “sixty one percent of public schoolteacher and 54% of private school teacher atthe elementary level reported that they hadnever had any training in teaching gifted students” bahwa enam puluh satu persen dariguru sekolah umum dan 54% dari guru sekolah swasta di tingkat SD melaporkan mereka tidak pernah mendapat pelatihan dalam mengajar siswa berbakat.

1.2 Perumusan Masalah

     
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis merumuskanpermasalahan sebagai berikut. 
  1.   Bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia untuk mahasiswa berkebutuhan khusus dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional
  2. Mengapa pengembangan metode pembelajaran IEP bagi  mahasiswa  berkebutuhan khusus berbasis FunAct penting sebagai upaya peningkatan daya saing di kancah internasional? 
  3. Bagaimana konsep dan implementasi metode pembelajaran IEP bagi  mahasiswa  berkebutuhan khusus berbasis FunAct dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional?
       

1.3 Tujuan Penulisan

  1. Menjelaskan kondisi pendidikan di Indonesia untuk mahasiswa berkebutuhan khusus dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional.  
  2. Menjelaskan pentingnya pengembangan metode pembelajaran IEP bagi  mahasiswa  berkebutuhan khusus berbasis FunAct penting sebagai upaya peningkatan daya saing di kancah internasional. 
  3. Menjelaskan konsep dan implementasi metode pembelajaran IEP bagi  mahasiswa  berkebutuhan khusus berbasis FunAct dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Bagi Pemerintah
Pemerintah dapat menjalankan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi  mahasiswa  berkebutuhan khusus berbasis FunActsehingga mampumeningkatkan daya saing di kancah internasional.
2. Masyarakat
Masyarakat dapat mendukung karya dari kreativitas mahasiswa berkebutuhan khusus agar dapat bersaing di kancah internasional.
3. Penulis
Penulis dapat menambah wawasan dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional bagi mahasiswa berkebutuhan khusus dengan adanya pengembangan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) berbasis FunAct.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Pendidikan

1.1. Pendidikan di Indonesia untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus
Sesuai dengan Undang – Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiaonal dapat disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada warga negara berkebutuhan khusus terlebih untuk para pelajar untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu.
Pada saat ini, layanan pendidikan bagi warga negara berkebutuhan khusus di Indonesia disediakan lembaga atau institusi pendidikan yang memberikan layanan untuk mahasiswa berkebutuhan khusus, seperti program studi Manajemen Pemasaran Politeknik Negeri Jakarta yang menjadi wadah bagi lulusan SMA/SMK LB serta SMA/SMK Inklusi.

2. Metode Pembelajaran IEP

2.1  Pengertian IEP (Individualized Educational Program)
Menurut Taylor, Smoley & Richards (2009), IEP adalah sebuah perencanaan program pendidikan siswa yang dirancang oleh sebuah tim. Metode ini merupakan perangkat perancangan, pengajaran, dan juga perangkat pemeriksaan. Disebut sebagai perangkat perencanaan karena dalam IEP memuat berbagai target dalam rentang waktu tertentu yang disusun secara komprehensif. IEP juga berisi strategi –strategi atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu target dalam belajar sehingga dapat mencapai hasil sesuai yang ditentukan. Sedangkan disebut sebagai perangkat evaluasi karena melalui target dan kegiatan yang disusun secara jelas, maka secara tidak langsung menggambarkan kompetensi yang akan dimiliki mahasiswa ketika telah menyelesaikan program belajarnya.
      Sesuai yang dikatakan oleh UNESCO (1998:203) bahwa “Kurikulum Program Indivilized Educational Program (IEP) diperuntukan bagi peserta didik yang memang tidak memungkinkan menggunakan kurikulum reguler maupun modifikasi. Tingkat kebutuhan pelayanan khususnya termasuk kompleks”. Kurikulum disini terdapat kurikulum modifikasi yaitu kurikulum reguler yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswadan Individualized Educational Program (IEP) yang dikhususkan bagi peserta didik sesuai dengan kondisinya.
      Lynch (1994:47) mengemukakan bahwa IEP merupakan suatu kurikulum atau suatu program pembelajaran yang didasarkan kepada gaya, kekuatan dan kebutuhan-kebutuhan khusus dalam belajar. Ini menunjukkan bahwa IEP pada prinsipnya adalah suatu program pembelajaran yang didasarkan kepada setiap kebutuhan individu. Dari  pandangan di atas mengandung pengertian bahwa mahasiswalah yang harus mengendalikan program, bukan program yang mengendalikan mahasiswa. IEP menjadi dokumen kerja yang terstruktur berisi langkah – langkah dan teknik yang berbeda untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran.

3. Modifikasi Kurikulum dan Pembelajaran Tematik

   1.Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah suatu cara utama untuk mengurutkan isi dan tujuan pembelajaran di sekolah, yang harus diperhatikan guru dan peserta didik selama kegiatan mengajar dan belajar, sementara tujuan adalah alasan untuk mengajar isi (Walker & Soltis, 2003: 5). Berdasarkan definisi yang diberikan Ross (2000: 9), sebuah kurikulum sekolah terdiri dari daftar kegiatan-kegiatan yang dirancang dalam kerangka organisasi untuk mengembangkan intelektual, kepribadian, kecerdasan sosial dan keterampilan fisik peserta didik.
3.2.Pengertian Modifikasi Kurikulum
Modifikasi kurikulum yakni kurikulum rata – rata atau kurikulum regular yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan atau potensi mahasiswa berkrbutuhan khusus. Modifikasi kurikulum ini dilakukan terhadap alokasi waktu, isi, atau materi kurikulum, proses belajar-mengajar, sarana prasarana, lingkungan belajar, dan pengelolaan tempat belajar.
            Dalam melakukan modifikasi atau pengembangan kurikulum, tidak serta merta sesuka hati untuk melakukannya. Namun terdapat landasan –landasan dalam pengembangan dan implementasi kurikulum dalam program IEP, sebagai berikut.
1.      Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya pada pasal 5 ayat (1), (2), (3) dan (4), pasal 6 ayat (1), pasal 12 ayat (1.b), pasal 36 ayat (2) dan penjelasan pasal 15.
2.      Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Mendiknas Nomor 22 dan Nomor 23 Tahun 2006.
3.3.Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik berasal dari kata integrated teaching and learning atau integrated curriculum approach yang konsepnya telah lama dikemukakan oleh Jhon dewey sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan perkembangannya ( Beans, 1993 ; udin sa’ud dkk, 2006 ).Definisi lain tentang pendekatan tematik adalah pendekatan holistic, yang mengkombinasikan aspek epistemology, social, psikology, dan pendekatan pedagogic untuk mendidik anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan ( Udin Sa’ud dkk, 2006 ).
            Pembelajaran tematik sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaranuntuk memberikanpangalaman yang bermakna bagi siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran ini berangakat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/ hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori belajarini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.

4. Pengembangan Metode Berbasis FunAct
Pengembangan metode IEP berbasis FunAct merupakan langkah dan teknik dalam proses pembelajaran mahasiswa berkebutuhan khusus karena di dalam pengembangan metode ini, mahasiswa dapat memaksimalkan potensi masing – masing walaupun dengan kecacatan yang berbeda – beda, sebab dalam pengembangan metode ini mahasiswa diajak untuk tetap tenang tetapi aktif agar tujuan dan informasi yang disampaikan oleh pengajar dapat tersampaikan kembali dengan benar. Sehingga keberhasilan dalam pengajaran dapat dilihat dari hasil pengajaran berbasin FunAct kepada mahasiswa berkubutuhan khusus.
            Dengan pengembangan metode FunAct ini mahasiswa berkebutuhan khusus yang menjadi target pengajaran dapat lebih aktif dan informasi yang disampaikan oleh pengejar dan pembimbing dapat tersampaikan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran, karena dalam pengembangan metode ini mahasiswa dituntut aktif dan kreatif selama proses pembelajaran. Dalam hal ini pengajar atau pembimbing berperan penting dalam penyampaian informasi kepada mahasiswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Teknik Pengumpulan Data  

             Pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah teknik pengamatan langsung dan teknik analisis dokumen. Penulis mengumpulkan data dari berbagai sumber baik buku, jurnal, majalah, maupun artikel guna mendukung karya tulis ilmiah ini.

B. Pengolahan Data

     Penulis memperoleh sumber dari data sekunder yaitu data yang digunakan
untuk mendukung dan melengkapi data primer yang berhubungan dengan masalah penulisan karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah ini tidak menggunakan data primer (data yang diambil secara langsung) melainkan data sekunderyang dapat berupa kepustakaan, arsip, data dari internet, dan dokumentasi.
Data yang telah dikumpulkan dengan pertimbangan relevansi, kemudian disusun, dan diklasifikasikan berdasarkan spesifikasi pembahasan dan subjudul yang terkait. Kemudian data dianalisis dan dikaji baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sesuai dengan jenis, isi, dan informasi yang terkandung seobjektif mungkin dan berimbang, yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian kutipan teoretis, data numerik sebagai dasar teori, referensi, dan pertimbangan dalam sintesis gagasan atau ide yang disusun secara runtut.

C. Analisis Data

Analisis data dalam penulisan kuantitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan dalam periode tertentu.

D. Kerangka Berpikir

Masalah daya saing mahasiswa Indonesia berkebutuhan khusus di kancah internasional
 


Sulitnya memahami pelajaran
Potensi yang dimiliki tidak berkembang (explore)
Hasil kreativitas masih sulit diterima oleh masyarakat luas
Terbatasnya tempat untuk mahasiswa bekebutuhan khusus dalam mengembangkan potensi

Keterbatasan komunikasi dan sosialisasi
Kurangnya  dukungan masyarakat luas dalam mengembangkan potensi
 

Pendidikan di Indonesia masih cenderung menggunakan metode pembelajaran mahasiswa non berkebutuhan khusus

Perlu adanya upaya peningkatan metode pembelajaran untuk mahasiswa berkebutuhan khusus
Adanya metode pembelajaran Individualized Educational program (IEP) di sekolah formal
Penerapan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) oleh pengajar di Politeknik Negeri Jakarta
Banyak tempat untuk mengemangkan potensi
Potensi sumber daya manusia (SDM) teroptimalisasi

Adanya dukungan masyarakat luas
Kemampuan mahasiswa berkebutuhan khusus teroptimalkan
Daya saing di kancah internasional meningkat  - Prestasi Mahasiswa berkebutuhan khusus meningkat
Gambar 1. Kerangka Berpikir Pengembangan Metode Pembelajaran Individual Education Program (IEP) bagi Mahasiswa Bekebutuhan Khusus Berbasis FunAct dalam Meningkatkan Daya Saing di Kancah International
 
 

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia

Dewasa ini peran lembaga pendidikan sangat menunjang tumbuh kembang dalam berolah system maupun cara bergaul dengan orang lain. Selain itu lembaga pendidikan tidak hanya sebagai wahana untuk system bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga yang dapat memberi skill atau bekal untuk hidup yang nanti diharapkan dapat bermanfaat didalam masyarakat. Sementara itu lembaga pendidikan tidak hanya di tunjukkan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik, tetapi juga kepada anak yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya, sehingga perlu di bantu dan di kasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu di sediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka. Pada dasarnya pendidikan untuk berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak- anak pada umumnya. Disamping itu pendidikan luar biasa, tidak hanya bagi anak anak yang berkebutuhan khusus, tetapi juga di tujukan kepada anak-anak normal yang lainnya. Beberapa sekolah telah dibuka bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. System pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan siswa menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan sekolah sekolah ini. Jadi anda tidak perlu khawatir dengan masa depan anak anda karena sekolah ini membekali anak untuk bisa hidup mandiri dalam hidupnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

B. Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia

Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia diperkirakan antara 3-7 % atau sekitar 5,5-10,5 juta anak usia di bawah 18 tahun menyandang ketunaan atau masuk kategori anak berkebutuhan khusus. Apabila ditambah dengan anak-anak yang menggunakan kacamata, jumlahnya akan lebih banyak lagi,Prof dr Sunartini, SpA (K), PhD dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta di gedung senat perguruan tinggi itu, Kamis (28/5). Secara global, tuturnya,diperkirakan ada 370 juta penyandang cacat atau sekitar 7 persen populasi dunia, kurang lebih 80 juta diantaranya membutuhkan rehabilitasi. Dari jumlah tersebut, hanya 10 persen mempunyai akses pelayanan. Istilah anak berkebutuhan khusus adalah klasifikasi untuk anak dan remaja secara fisik, psikologis dan atau sosial mengalami masalah serius dan menetap. Anak berkebutuhan khusus ini dapat diartikan mempunyai kekhususan dari segi kebutuhan layanan kesehatan, kebutuhan pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, pendidikan inklusi, dan kebutuhan akan kesejahteraan sosial dan bantuan sosial.

C. Pentingnya Pengembangan Metode Pembelajaran IEP Bagi  Mahasiswa  Berkebutuhan Khusus.

Kata program berasal dari Bahasa Inggris, yaitu Programe yang mengandung arti rencana atau rencana kegiatan. Dengan mengacu pada arti kata program yang berarti rencana, maka program pendidikan untuk berkebutuhan khusus dalam tulisan ini diartikan sebagai rencana kegiatan pendidikan yang akan diberikan kepada anak berkabutuhan khusus di sekolah-sekolah khusus dan di sekolah-sekolah regular yang menerapkan system pendidikan. Program pendidikan yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan mereka ialah program pedidikan individual yang biasa disingkat PPI. Program pengembangan pendidikan individual (PPI) untuk anak yang berkebutuhan khusus dikembangkan dengan melalui berbagai proses atau tahap-tahap pengembangan dan pelaksanaan program pengembangan pendidikan individual, yaitu mencakup tahap: penjaringan dan identifikasi peserta didik yang berkelainan dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, melakukan rujukan ke tim pendidikan khusus, melakukan pertemuan tim, malakukan asesmen, melakukan pertemuan tim asesmen, menyusun program pendidikan individual (PPI), melaksanakan program pendidikan individual, dan evaluasi pelaksanaan program pendidikan individual (Depdiknas,tahun 2003:30). Pada tahap penjaringan dan identifikasi yang perlu dilakukan oleh semua satuan pendidikan khusus ialah menemukan atau menjaring semua peserta didik yang berkebutuhan khusus yang berhak memperoleh pendidikan khusus. Program penjaringan umumya mencakup program tes hasil belajar atau  tes kelompok yang lain, penyebaran angket kepada guru-guru untuk mengidentifikasi peserta didik yang menunjukkan gejala-gejala yang bermasalah. Program kampanye kepedulian bertujuan untuk memeberikan informasi kepada masyarakat tentang tersedianya berbagai layanan kepada penyandang kalainan. Survey juga dapat dilakukan untuk menjaring dan mengidentifikasi anak yang berkebutuhan khusus dengan melakukan survey kepada tokoh masyarakat, dokter, tenaga paramedis, dan pihak lainnya agar anak berkebutuhan khusus yang belum terjangkau pendidikan dapat diidentifikasi. Tahap rujukan ke Tim Pendidikan Khusus sebagai tahap pengembangan dan pelakasanaan program pendidikan program pendidkan individual (PPI), dimaksudkan yaitu setiap peserta didik yang diketahui menunjukkan tanda-tanda bermasalah akan dirurjuk kepada Tim Pendidikan Khusus. Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik sehingga perlu dirujuk ialah karena peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kesulitan bergaul dengan teman, kemampuan membaca yang rendah, tidak mampu memusatkan perhatian, prestasi belajar yang dicapai jauh dibawah teman-teman sekelasnya, dan karena anak mengalami gangguan mobilitas karena kondisi fisik, dan sebagainya. Tahap pertemuan Tim Rujukan dalam pengembangan pelaksanaan program pendidikan individual (PPI) bertujuan memeprtemukan semua tenaga profesi yang pernah atau sedang menangani peserta didik yang dirujuk sehingga informasi tentang peserta didik yang bersnagkutan dapat diperoleh dengan lengkap. Program pendidikan individual (PPI) yang telah disusun secara resmi lalu dilaksanakan kepada peserta didik yang berkebutuhan  dalam proses pembelajaran dikelas. PPI dilakukan dalam kelas agar para pengajar mampu membimbing anak berkebutuhan khusus melalui kelebihan atau bakat yang dimiliki setiap aanak berkebutuhan khusus tersebut.

D. FunAct (Fun, Active, and  Creative)

          FunAct merupakan sebuah inovasi program yang bertujuan untuk memudahkan anak berkebutuhan khusus dalam menyerap pelajaran dalam sekolah formal maupun non formal  melalui pengembangan metode pembelajaran Individualized Educatioal Program (IEP). FunAct  merupakan serangkaian kegiatan usaha dibidang pendidikan khususnya untuk anak berkebutuhan khusus melalui pengajaran yang Fun (menyenangkan ), Active (keaktifan), dan Creative (kreatif). Sehingga melalui pengembangan metode pembelajaran berbasis FunAct dapat mempermudah dalam mengembangkan bakat yang dimiliki para anak berkebutuhan khusus.. Sistem kerja FunAct  berjalan dengan diintegrasikan melalui para pengajar dalam lembaga formal sebagai lembaga pendidikan. Sasaran utama program ini adalah pemuda-pemuda yang memiliki kekurangan baik secara fisik maupun mental (ABK), yang memiliki keterampilan dan kreativitas. Melalui FunAct para pemuda akan diberdayakan melalui program belajar yang nantinya akan difokuskan pada kelebihan yang mereka miliki. Harapannya para pemuda berkebutuhan khusus dapat meningkatkan kreatifiasnya agar mampu memiliki usaha yang dikelola secara mandiri sehingga dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakatlain yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia dan prestasi Indonesia di kancah Internasional.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Paparan dan penjelasan di atas yang dihasilkan dari proses penelitian, wawancara, observasi, Forum Group Discution (FGD), dan reverensi berbagai data. Maka penulis dapatmenyimpulkan bawa metode IEP berbasis FunAct ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan kepada Mahasiswa Berkebutuhan Khusus, karena dengan adanya basis FunAct dalam metode IEP kurikulum yang telah dimodifikasi dapat menyesuaikan dengan kemapuan siswa didik sehingga dampaknya anak tidak berat dalam proses belajar dan menimbulkan tingkat tekanan yang tinggi selama proses belajar, karena dengan basis ini pengajar dapat langsung mengetahu minat dan bakat. Dengan adanya basis ini, pendidikan untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus mempunyai acuan dengan langkah – langkah yang jelas untuk menimbulkan komunikasi yang lebih dekat dengan pengajar baik dengan cara diskusi atau bermain dengan alat yang dapat membantu sehingga rangsangan kreativitas mahasiswa untuk lebih mengeksplorasi minat dan bakat agar dapat di arahkan untuk bersaing di kancah internasional.

5.2 Saran

            Dengan adanya program tersebut kurikulum dapat menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik sehingga dampaknya anak tidak merasa tertekan ketika menghadapi pembelajaran dan dapat menganalisan minat bakat secara cepat karena keaktifan dan kekreatifan peserta didiklah sebagai proses untuk mencapai tujuan yang diinginkan pengajar.



DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Freiberg, Karen. 1999. Education Exceptional Children. Amerika: University of Maryland.

Undang – Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiaonal.

Taylor, Smoley & Richards (2009). Individualized Educational Program (IEP).
UNESCO, (1998). Learning: The Treasure Within. Report to UNESCO of the International Commission on Education for The Twenty first Century, Perancis: Paris.

Lynch, James. 1994. Proyection for Children with Special Need Education in Asian Regio.  USA: The World Bank. 

Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Mendiknas Nomor 22 dan Nomor 23 Tahun 2006.

Beans, 1993; udin sa’ud dkk, 2006. Integrated Teaching And Learning

Tulisna, Tina. 2012. Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Retrieved from : http//m.kompasiana.com.visited page on 19/05/2012 22:22.

Sarlito, Wirawan Sarwono. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.

Dariyo, Agoes. 2007.  Psikologi Perkembangan Anak 3 Tahun Pertama. Bandung: Revika Aditama.


Kamis, 11 Agustus 2016

Menyikapi Pesatnya Media Elektronik Dalam Bidang Pendidikan




Perkembangan teknologi di Indonesia pada masa modern ini sangatlah merubah pola hidup masyarakat Indonesia. Salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam pembangunan dan juga perusakan karakter masyarakat atau bangsa adalah media elektronik, dengan pelaku utamanya adalah televisi (Tim Pakar Yayasan Jati Diri Bangsa, 2011). Dampak dari  adanya media elektronik telah dibuktikan secara nyata oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, melakukan pendidikan bangsa untuk menguatkan karakter bangsa melalui tulisan-tulisan di surat kabar waktu itu. Perkembangan alat bantu yang sangat pesat , merubah seluruh kehidupan manusia sehingga manusia menjadi sangat bergantung kepada teknologi yang ada. Perubahan  yang  pesat  memaksa berbagai cara untuk membawa perspektif pendidikan. Peran media ada tiga, yaitu sebagai penyampai informasi, edukasi, dan hiburan (Oetama, 2006). Salah satu kebutuhan primer  yang membawa dampak yang sangat kompleks adalah berkembangnya media elektronik sebagai sebuah sarana pendidikan tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Media elektronik mempunyai pengaruh besar dalam membangun multicultural yang ada.  Media elektronik ini dapat berdampak positif tetapi juga dapat menjadi sebuah senjata ampuh dalam menjatuhkan karakter manusia. Media elektronik ini sangat berpengaruh terhadap perilaku, pola pikir, dan kebiasaan generasi muda di Indonesia.
Ironisnya, Indonesia adalah Negara dunia ketiga yang tingkat buta hurufnya masih tinggi, media elektronik khususnya televisi memegang peran besar dalam penyebaran informasi. Televisi menjadi semacam kebutuhan karena sosialisasi budaya baca kurang berkembang di Indonesia. Masalah yang datang adalah ketika sarana yang begitu efektif tersebut justru menyebarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Begitu banyak program yang dibuat tanpa memikirkan tanggung jawab moral terhadap para penonton muda. Kita semua tahu generasi muda bangsa ini semakin kehilangan jati diri dan rasa cinta tanah airnya. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh program televisi yang menyebarkan “budaya instant”. Beberapa program menggambarkan budaya korupsi, budaya materialisme, bahkan banyak program gosip yang sedemikian merasuki pikiran penonton sehingga di dalam pergaulan dan sosialisai mereka justru membicarakan hal-hal yang mencampuri urusan pribadi orang lain. Berbagai sinetron dan infotainment yang semakin marak disiarkan di layar kabar setiap hari adalah salah satu contoh betapa misi edukasi justru semakin terpinggirkan, belum lagi tayangan-tayangan yang menyuguhkan kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Yang terjadi sekarang, masyarakat dibuat cemas dengan serbuan berbagai sinetron yang semakin melampaui batas “wajar”. Bayangkan saja, betapa mirisnya kita sebagai penonton televisi yang setiap hari dijejali dengan sinetron yang tidak berkualitas dan isinya hanya “manajemen konflik” antar tokoh, dan lebih banyak mengumbar hedonisme, bahkan mendoktrin kita untuk menerima dengan gamblang pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Menurut hasil penelitian American Psychological Asociation (APA) pada tahun 1995 terungkap bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Adapun tayangan yang kurang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan, penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak ( Zubaedi, 2011)
Dalam menyikapi hal ini generasi muda di Indonesia dapat memperhatikan fungsi atau kegunaan suatu media elektronik. Media elektronik ini pun juga digunakan secara bijaksana dan arif untuk tetap menjaga karakter yang baik pada generasi muda Indonesia dan tidak terkontaminasi oleh dampak negatif media elektronik tersebut khususnya tayangan pada televisi. Maka dari itu penulis akan memeberikan solusi dalam  menyikapi pengaruh media elektronik di era modern ini terhadap karakter generasi muda di Indonesia yaitu, dengan menerapkan sistem yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari secara mudah dan fleksible.


Dalam buku pengantar ilmu komunikasi (Cangara,2006:119), media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Sedangkan  menurut Fitrzgerald,  Higginbotham, & Grabel (2008), elektronika adalah cabang ilmu listrik yang bersangkutan secara luas dengan alih informasi menggunakan tenaga elektromagnetik. Jadi, media elektronik adalah alat atau sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak menggunakan tenaga elektromagnetik atau aliran listrik. Alat ini sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari – hari terkhusus untuk generasi muda  yang ada di Indonesia. Tetapi, media elektronik dapat berdampak negatif terhadap generasi muda di Indonesia. Alat ini memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai sarana Informasi, Hiburan dan Pedidikan (Edukasi). Di Indonesia media elektronik sudah banyak digunakan sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatiaan dan kemauan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar (Miarso, 2004).  Dalam proses pembelajaran tidak hanya diajarkan dalam aspek intelektual saja (hard skill) tetapi juga diajarkan dalam aspek karakter (soft skill). Telah dibuktikan berdasarkan penelitian di Harvard Univesity Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata oleh pengetahuan dan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill), penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan 80% oleh soft skill. Dari hasil penelitian tersebut telah dibuktikan bahwa pendidikan karakter generasi muda di Indonesia harus lebih ditingkatkan agar mencapai kesuksesan. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan susana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadiaan yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan  oleh dirinya dan masyarakat ( UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003). Karakter adalah ciri khas yang dimiliki suatu benda atau manusia (Hermawan Kertajaya, 2010). Jadi pendidikan karakter adalah  suatu  usaha yang dilakukan secara sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya dan ciri khas atau kepribadiannya. Pendidikan karakter ini untuk membantu generasi muda di Indonesia dalam menghadapi adanya peran media elektronik terhadap karakter mereka. Pendidikan karakter tidak hanya didapat dalam lembaga formal saja (SD, SMP, SMA, Universitas) tetapi dapat diperoleh dimana saja (Lingkungan sekitar). Pendidikan karakter juga tidak lepas dari peran media elektronik seperti di Indonesia sudah banyak menggunakan  televisi, radio, komputer, Handphone dan lain sebagainya.

            Di Indonesia media elektronik sangat berguna untuk alat bantu dalam pembelajaran baik pembelajaran intelektual maupun karakter. Media ini sangat berpengaruh besar tehadap salah satu fungsi media elektronik itu sendiri yaitu edukasi (Pendidikan). Di dalam pendidikan, media elektronik dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahan penggunanya khususnya generasi muda di Indonesia. tak bisa kita pungkiri anak muda atau remaja adalah individu yang tingkat keingintahuan akan sesuatu sangat tinggi. Maka dari itu generasi muda di Indonesia sangat bergantung pada media elektronik seperti televisi, radio, handphone dan lain sebagainya. Namun tak bisa kita pungkiri media elektronik ini dapat berdampak positif dan negatif bagi pengguna. Dapat kita lihat dari penggunaan media elektronik di indonesia, penggunaan televisi sangat berguna jika pengguna dapat menonton tayangan televisi seperti berita yang akan menambah pengetahuan, handphone yang digunakan untuk mencari pengetahuan melalui internet, play station digunakan untuk hiburan semata saat bosan akan berdampak positif. Namun sebaliknya generasi muda di Indonesia menggunakan media elektronik tidak sesuai dengan fugsi media elektronik tersebut atau digunakan diluar batas “wajar”, seperti televisi, handphone, dan play station yang lebih memberikan nilai kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Tentu nilai pada media elektronik  tersebut sangat menyingkirkan nilai edukasi. Tidak hanya intelektual saja yang hancur tetapi karakter generasi muda di Indonesia juga hancur. Ini digambarkan dengan maraknya perilaku tindak kekerasan, pornografi dan pornoaksi yang dilakukan anak dibawah umur, belum lagi adanya imitasi gaya budaya barat yang tidak sesuai dengan nilai budaya di Indonesia. berita terkini tentang terbunuhnya dosen oleh mahasiswa karena masalah nilai yang terjadi di Medan (Kompas, 3 Mei 2016) ini membuktikan pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan terlebih pendidikan karakter di Indonesia.  hal ini dapat diakibatkan karena generasi muda di Indonesia beranggapan pendidikan yang menentukan keberhasilan mereka adalah intelektual saja sehingga mereka mengabaikan faktor lain yang akan menghancurkan keberhasilan mereka melalui karakter atau kepribadian mereka. Faktor utama yang menyebabkan mereka beranggapan seperti itu adalah pendidikan di indonesia lebih cenderung pada penilaian ulangan yang ada di sekolah saja, jarang menilai seseorang dari kepribadiannya. Seperti budaya menyontek di Indonesia ini disebabkan karena tujuan utama mereka belajar adalah mendapatkan nilai tinggi, tidak memperhatikan proses untuk mendapatkan nilai tinggi tersebut dan juga disebabkan pendidikan karakter di Indonesia sangat rendah. Oleh karena nya banyak orang sukses di Indonesia yang memiliki kepribadian berkulitas  jumlahnya sangat rendah. Dalam menyikapi hal ini penulis terdorong untuk lebih menggencarkan pendidikan karakter dalam menghadapi peran media elektronik untuk para generasi muda di Indonesia yaitu dengan menerapkan sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) yang berdasarkan penelitian penulis dalam hal ini.
           
 Sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) adalah salah satu sistem yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari dengan cara yang mudah dan fleksible diterapkan oleh semua kalangan khususnya generasi muda di Indonesia.  Pertama, Social (Sosial) yaitu hubungan seseorang kepada orang lain, jika generasi muda di Indonesia lebih sering bersosialisasi terhadap orang lain, maka akan mengetahui perilaku yang baik atau buruk, lebih mengeahui jati diri sendiri dari lingkungan sekitar dan dapat belajar dari pengalaman orang lain. Kedua, Activity (Aktivitas), maksud dari aktivitas ini adalah dengan banyaknya melakukan kegiatan selain rutinitas seperti berorganisasi maka akan membentuk kepribadian seseorang dengan sendirinya tanpa imitasi gaya seseorang atau budaya orang lain akibat penggunaan media elektronik yang berlebihan. Ketiga, Control ( Pengendalian), dalam segi pengendalian generasi muda dapat mengendalikan sikap dan perilaku yang akan mereka lakukan seperti  penggunaan media elektronik tidak di luar batas wajar, digunakan sesuai kegunaan dan fungsinya. Keempat, Goverment Agency (Lembaga Pemerintahan), di dalam lembaga pemerintahan dibiasakan untuk bersikap jujur dalam melakukan sesuatu seperti dalam sekolah formal membiasakan diri bersikap jujur tidak membudayakan sikap menyontek dan untuk lembaga pemerintahannya sendiri lebih memperhatikan aspek kepribadiaan seseorang dibandingkan dengan penilaian secara intelektualnya saja. Kelima, Freedom ( Kebebasan ),  seseorang  akan merasa senang jika ia  tidak berada dalam tekanan (kebebasan) untuk meng-explor kemampuan yang dimilikinya sehingga kepribadian seseorang terbentuk dengan sendirinya dan akan merasa nyaman melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya jika di dukung oleh orang disekitarnya. Dari ke lima unsur penerapan Sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom)  masih saling berkaitan satu sama lain, sistem ini tidak dapat berdiri dengan sendirinya tanpa adanya keterkaitan unsur lainnya.
           
 Tujuan dibuatnya sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom)  yaitu  suatu  langkah untuk membentuk kepribadian yang arif dengan adanya peran media elektronik di Indonesia,  merubah pemikiran banyak orang khususnya generasi muda bahwa pendidikan tidak hanya intelektual saja tetapi pendidikan karakterlah yang banyak membuktikan kesuksesan seseorang dengan didukung adanya media elektronik, merubah pemikiran generasi muda di Indonesia bahwa pendidikan karakter tidak hanya di dapat dalam lembaga formal saja tetapi juga didapat dalam  lingkungan  sosial, dan  membatasi penggunaan media elektronik secara berlebihan ( diluar batas wajar penggunaan) lebih banyak belajar dalam kehidupan sehari – hari (lingkungan  sosial),

Dari pemamparan diatas, dapat disimpulkan media elektronik adalah alat atau sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak menggunakan tenaga elektromagnetik atau aliran listrik. Media elektronik ini memiliki tiga fungsi yaitu sebagai penyampai informas,  hiburan dan pendidikan. Di Indonesia fungsi dari media elektronik tersingkirkan karena adanya pengaruh pesatnya kemajuan teknologi sehingga informasi dari luar  Indonesia dapat masuk secara mudah baik informasi positif dan negatif. Faktor lain yang menyebabkan fungsi pendidikan  tersingkirkan  adalah media elektronik lebih memberikan nilai kekerasan, pornografi dan pornoaksi serta budaya matrealisme dan hedonisme. Di samping itu juga pendidikan karakter di indonesia sangat rendah. Pendidikan karakter adalah  suatu  usaha yang dilakukan secara sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif , mampu  mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya dan ciri khas atau kepribadiannya. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata oleh pengetahuan dan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill), tetapi sebaliknya di negara indonesia lebih mengutamakan pendidikan dari segi  hard skill. Hal ini menyebabkan karakter masyarakat di Indonesia khusunya generasi muda mulai runtuh disebabkan oleh adanya media elektronik yang di konsumsi tidak secara arif dan bijaksan. Menyikapi hal ini penulis terdorong untuk membuat sisitem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom). Sistem ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara fleksible dan mudah dengan tujuan utama yaitu membentuk kepribadian yang arif dengan adanya peran media elektronik di Indonesia.

Oleh karena itu penulis menyarankan untuk pihak : 
1.Generasi muda di Indonesia, yaitu  menggunakan media elektronik secara arif dan bijaksana agar fungsi dari media elektronik tidak tersingkirkan khususnya  dalam segi pendidikan.
·       Orang tua, yaitu agar selalu mengontrol keseharian anak seperti memperhatikan tayangan yang di konsumsi oleh anak dan  pendidikannya baik  hard skill maupun soft skill untuk mengindari dampak negatif adanya peran media elektronik.





Daftar Pustaka

Budiyono, Kabul.2007. Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.

Dagwanwin, Donal (2015). 10 Pengertian Karakter Menurut Para Ahli Terlengkap. Retrieved fromhttp://www.galeripengetahuankita.com/.2015/12/10-pengertian-karakter-menurut-para-ahli.html

Fahrizal, Derry (2014). Menghadapi Tantangan Global: Peranan Media. Retrieved from http://m.kompasinia.com/ derryfahrizal/menghadapi-tantangan-global-peranan-media.html

Hengky, Dian & Mirna (2013).Peranan Media Massa Dalam Pembentukan Karakter. Retrieved from http://www.fkipunsa.ac.id/peran-media-massa-dalam-pembentukan-karakter-2/.html

Hilmy, Rozan (2014). Peran Media Dalam Membentuk Karakter Pelajar. Retrieved from http//m.kompasiana.com/rozanhilmy/peran-media-dalam-membentuk-karakter-pelajar.html

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter “Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional”. Jakarta: Bumi Aksara.

Sugiarto, Agus (2015). Pengertian Elektronika Menurut Para Ahli. Retrieved from http://news.indonesiakreatif.net/pengertian-elektronika.html