SAMA TETAPI BERBEDA
Perkenalkan namaku Novi Endah Widiastuti seorang
mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, kegiatan ku selain kuliah yaitu
berorganisasi dan mengajar sebagai mata pencaharianku untuk menghidupi
kehidupan ku. Cerita ini aku angkat dari pengalaman ku yaitu mengajar di suatu
desa terpencil yang terletak di Jawa Barat, Desa Purasari dan mengajar privat
di dekat rumaku, Jakarta Selatan.
Ceritaku ini berawal dari desa yang sangat ku
cintai yaitu desa Purasari disana aku dan teman – teman ku melakukan pengabdian
selama 17 hari di kepanitiaan PNJ Mengajar. Dalam kepanitiaan ini kegiatan kami
sangat padat tetapi rutinitas yang kami jalani adalah mengajar adik – adik desa
purasari yaitu di SDN 02 Purasari. Disana kami mengajar seperti guru biasanya
yang setiap hari masuk kelas pukul 07.00 pagi dan matapelajaran yang biasanya
dipelajari oleh anak- anak SD umumnya. Memang tempat ini jauh sekali dari
ilmu pengetahuan yang memadai letaknya pun sulit dijangkau oleh masyarakat lain
dan butuh perjuangan untuk mencapai lokasi ini. Sebelum kami melakukan
pengajaran, tim pengajar khususnya sudah mempersiapkan bahan ajar yang nanti
akan diberikan oleh adi-adik Purasari. Kami pun sudah mempersiapkan alat – alat
yang akan digunakan untuk bahan pembelajaran disana. Jadwal pengajar untuk
mengajarpun sudah kami siapkan sesuai dengan kebutuhan setiap kelasnya. Semua
persiapan mengajar sudah kami persiapkan dan kami perkirakan sesuai dengan kondisi
disana.
Setiba kami di desa Purasari kami mulai
beradaptasi dengan warga disana dan pastinya dengan adik-adik lucu di sana. Dan
kami pun mempersiapkan diri untuk mengajar esok hari. Di SDN 02 Purasari
memang fasilitas belajar kurang memadai dan sangat memprihatinkan mungkin kalau
jujur aku sangat sedih, melihat kondisi belajar mereka dengan fasilitas yang
sangat miris beratap bolong – bolong, lantai tidak berubin, tidak ada toilet,
pagar pun tidak ada, fasilitas kelas banyak yang rusak, ini sangat miris
apabila kita bandingkan dengan sekolah di Jakarta yang fasilitas sekolah
memadai dan tentunya layak pakai. Ini beberapa penilaian ku tentang sekolah di
desa Purasari. Setelah beberapa hari kami mengajar kami selalu melakukan
evaluasi tentang pengajaran dikelas. Hasil evaluasi yang
aku terima dari tim pengajar yaitu sulitnya daya tangkap anak – anak dalam
menerima pelajaran, ketertinggalan pelajaran dengan pelajaran yang ada di
jakarta (kurikulum tidak sesuai ketentuan pemerintah), lebih suka bercanda dibandingkan
belajar, masih membiasakan jajan tidak pada jam nya, belum percaya diri dan
kurangnya perhatian oleh orang tuanya. Bahan evaluasi ini selalu kami cari
tahu bersama apa solusi untuk mengurangi masalah dalam pendidikan di sekolah
tersebut. Lalu selain rutinitas bealajar di sekolah ada kegiatan yang di
rancang oleh panitia PNJ mengajar yaitu Hotter (homework together) yaitu
belajar bersama yang bersifat non formal disini kami semua panitia khususnya
aku dapat mengamati potensi adik – adik di Purasari dan sifat mereka secara
langsung. Mereka sangat senang dengan kegiatan ini, Hotter dilakukan pada malam
hari, sungguh luar biasa mereka untuk dapat hadir ke tempat Hotter yang
notabennya rumah mereka sangat jauh dengan tempat Hotter bahkan mereka harus melewati
sawah dan hutan pada malam hari. Namun semua itu tak menyurutkan semangat
mereka untuk tetap hadir Hotter agar mendapatkan ilmu yang mereka belum ketahui
dan sampai mereka menginap ditempat Hotter karena pulang Hotter sudah larut
malam. Dalam pengamatanku dalam kegiatan Hotter yaitu mereka sebenarnya
mampu dalam ilmu pengetahuan bahkan lebih dari anak jakarta yang hidupnya
selalu mewah karena mereka sangat bersemangat dan berjuang dalam menuntut ilmu
namun semua itu tidak mereka ketahui, mereka hanya membutuhkan motivasi dari
orang lain. Aku melakukan penelusuran dengan memasuki kelas-kelas untuk
mengetahui bagaimana mereka sedang belajar dan cara tim pengajar mengajar aku
merasakan haru yang sangat mendalam melihat semangat belajar mereka dikelas dengan
keadaan kelas yang terbilang tidak layak pakai terutama kelas 1 dan kelas 2
yang menurut ku mereka membutuhkan kelas yang nyaman untuk belajar, dan menurut
ku lingkungan berpengaruh terhadap daya pikir seseorang. Setiap hari aku selalu
datang ke sekolah tersebut walaupun aku tidak mengajar secara penuh, aku selalu
bercengkrama dengan adik – adik di SDN 02 Purasari dan mereka menceritakan
kehidupan sehari – harinya mungkin kalau kalian mengetahui secara langsung akan
merasakan sama dengan ku yaitu sedih dan menangis. Mereka selalu berangkat
sekolah pukul 05.00 dari rumah mereka dan mereka harus melewati sawah, hutah,
sungai bahkan jurang yang sangat menyeramkan semua itu itidak menjadi alasan
untuk mereka tidak berangkat sekolah. Mereka berangkat sekolah pukul 05.00 –
07.00 untuk sampai kesekolah. Dan lebih memprihatinkannya lagi mereka banyak
yang tidak memiliki sepatu yang layak untuk dipakai dengan kata lain mereka
berangkat sekolah tidak menggunakan alas kaki. Menurutku itu sangat bahaya bagi
mereka tapi mereka mengatakan bahwa itu adalah kebiasaan sehari – hari, sanagt
Mengagumkan!
Ku kira disana aku akan mengajar TAPI disana aku
Belajar!, mereka mengajarkanku Kesederhanaan,
Semangat, Berjuang, dan Riang Gembira.
Aku BANGGA , aku SAYANG, dan aku CINTA mereka (
adik – adik purasari ) yang penuh semangat juang untuk menuntut ilmu.
Namun aku mendapatkan perbedaan saat aku mengajar
di Jakarta, semua yang aku rasakan di desa Purasari berbalik dengan kekecewaan.
Banyak orang beranggapan setiap orang yang mendapat kemewahan akan giat dalam
menuntut ilmu dan menjamin kesuksesan. Jika ada yang bertanya seperti itu
kepadaku tentu aku akan menjawab TIDAK!!!
Ini aku rasakan setelah aku mengajar privat
di Jakarta, keluarga murid ku ini terbilang kaya raya dan anaknya pun sangat
manja, minta ini dan itu selalu diberikan oleh keluarganya terutama ibunya,
memang anak ini adalah anak tunggal. Namanya yaitu Farel, ia duduk
dibangku kelas 2 SDN di jakarta. Aku akui anak ini pintar, daya tangkapnya pun
sangat kuat (cekatan) tapi disisi lain aku tidak menyukai cara ia belajar,
Farel mau belajar jika kemauannya dituruti seperti ingin jalan –jalan naik
kreta api baru ia mau belajar bahkan mau sekolah pun seperti itu, harus
kemauannya dituruti apabila tidak dituruti ia tidak mau belajar bahkan
tidak mau sekolah. Setiap malam aku mengajari pelajaran yang akan dipelajari
esok hari kadang ia mau belajar dan kadang tidak, ia selalu memngatakan “CAPEK,
GAK MAU SEKOLAH” ucapan itu selalu aku dengar dari mulut dia. Padahal hidup mewah,
fasilitas belajar sangat memadai dan dukungan orang tua pun ia dapatkan. Itu
yang membuat aku kecewa dan miris. Saat aku mengajari Farel kadang teringat
saat aku mengajar di desa Purasari, sangat jauh perbedaan mereka padahal mereka
serba kekurangan tapi semangat mereka yang membuat mereka kaya namun sebaliknya
anak murid ku Farel serba kecukupan, tapi semangat belajarnya sangat rendah
bahkan tidak ada semangat dalam menuntut ilmu.
Mereka semua sama yaitu siswa – siswi
Sekolah Dasar namun yang berbeda adalah semangat juang mereka, kesederhaan,
Riang gembira dalam menjalani kehidupan sehari – harinya dan tentunya dalam
menuntut ilmu untuk masa depan mereka.
“Kemewahan tidak menjamin kesuksesan,
kemodernan tidak menjamin kemampuan dan kemampuan tidak menjamin kesuksesan ,
hanya KEMAUAN yang KUAT lah yang mampu mengalahkan KEMAMPUAN dan meraih
KESUKSESAN!!”
“Kebahagiaan hidup yang sebenarnya
adalah hidup dengan rendah hati.”
“Keberhasilan adalah
kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan
berikutnya tanpa kehilangan semangat.”
“Gantunglah cita-cita mu setinggti
langit! Bermimpilah setinggi langit.jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di
antara bintang – bintang” (Soekarno).