Jakarta, 3 januari 2018
AKU
YANG TERLUPAKAN
Pada tanggal 30
juli 2017 aku memiliki niat untuk melihat keindahan alam yang mungkin sudah
terlupakan oleh manusia di darat. Mereka seharusnya mendapatan perhatian lebih
dari kita, karena tidak ada mereka sama dengan tidak ada kehidupan, mereka
sakit kita akan merasakan sakit, mereka terluka kita akan lebih terluka
dibandingkan mereka. Apa maksud yang ku bicarakan ini teman?
Gunung?
Alam?
hutan?
Yaa benar sekali teman aku disini ingin
membela sahabatku yang terlupakan oleh kalian yaitu gunung, alam dan hutan.
pada tanggal
tersebut aku diajak oleh seseorang yang membuatku cinta terhadap alam sekaligus
sebagai penasihat hidupku nanti. Yang awalnya tawaran itu aku sempat
pertimbangkan karena apa yang ditawarkan kepadaku sungguh mengandung resiko
yang cukup tinggi dan berurusan dengan nyawa. Namun saat ku pikirkan kembali
alangkah baiknya aku terima tawaran itu. Dalam benakku aku menerima tawaran itu
hanya untuk berlibur, menghilangkan trauma ketinggian ku dan mengobati penyakit
yang aku miliki tanpa ku berpikir betapa malangnya nasib alamku ini yang sudah
memberikan manfaat untuk orang lain namun ia terlupakan.
Ini adalah pengalaman
pertamaku untuk menyatu dengan alam yang dimanjakan dengan keindahannya,
kesejukannya dan nuansa kebebasan dalam hidup. Pendakian pertamaku adalah ke
gunung Prau yang terletak di Jawa Tengah, Wonosobo. Sangat butuh perjuangan
untuk mencapai puncaknya. Dengan ditemani oleh teman – temanku, aku berhasil
mencapai puncak gunung tersebut. Mungkin banyak orang mengira mendaki gunung
hanyalah sebuah media eksistensi saja, namun aku katakan itu suatu KESALAHAN
TERBESAR jikalau mereka menyadarinya.
Banyak makna yang tersirat saat ku
mendaki dan menyatu dengan alam yang indah itu. Aku sangat sedih jika teringat
kembali saat aku mendaki ke kaki gunung tersebut dan sampai dengan puncaknya,
walaupun saat itu jujur aku harus mengeluarkan tenaga yang lebih ekstra dari
pendaki biasanya karna penyakit yang ku miliki dan trauma ketinggian ku yang
merenggut rasa ketakutanku. Semua itu aku lawan untuk menjadi manusia yang
hidup sehat dan pemberani. Ternyata setelah aku merasakan perjuangan itu banyak
nilai positif yang dapat ku ambil. Aku merasakan saat menyatu dengan alam
seakan -akan alam itu berbicara kepadaku dan merasakan kesedihan mereka yang
terlupakan bahkan di rusak oleh tangan – tangan manusia yang tidak bertanggung
jawab. Beberapa pesan tersirat dari alam
yang akan aku sampaikan kepada teman – teman betapa merindunya mereka terhadap
kasih sayang manusia dan betapa sedih nya mereka terlupakan oleh kalian.
1.
Hai manusia kau lupa dengan jasa ku yang telah membantumu
memberikan oksigen?
2. Hai manusia kau
lupa dengan jasa ku yang telah membantumu memberikan makanan ( Nabati dan
hewani)?
3. Hai manusia kau
lupa dengan ku jikalau kami rusak bagaimana kehidupan mu kelak?
4. Hai manusia aku
sangat merindukan mu dengan tangan lembut mu
5. Hai manusia aku
rindu untuk di perhatikan oleh mu.
6. Hai manusia aku
sangat rindu di perdulikan oleh mu.
7.
Hai manusia aku rindu untuk menyatu pada mu
8. Hai manusia
tolong tengoklah aku bahwa ku sangat mengharapkan kedatangan mu untuk tetap
mengenalku.
9. Hai manusia
jangan lah melulu kau sibuk dengan urusan mu saja
( mengikuti
zaman/hedonisme)
Itulah pesan yang
tersirat dari mereka kepada ku saat aku disana. Ini benar – benar aku rasakan
bukan hanya tulisan cantik yang ku buat – buat. Dibalik pengharapan mereka, aku
juga mendapatkan pesan tersendiri yang aku simpulkan bahwa “jikkalau kau ingin
mengenal pribadi seseorang, pergilah menyatu pada mereka dan manusia sebagai
makhluk yang merdeka akan merasakan seutuhnya sebagai makhluk merdeka serta
mencharge iman kita terhadap Tuhan (Allah) disanalah salah satu tempatnya,
karena disanalah kau akana menyadaribetapa besarnya kuasa Allah.”
Disanapun aku mendapatkan nilai – nilai
positif yaitu
1.
Nilai kesederhanaan
2. Nilai
persahabatan
3. Nilai
kereligiusan
Dan nilai lainnya yang mereka (alam,
gunung, hutan) berikan kepada aku. Maka dari itu ayo teman kita pedulikkan
mereka agar mereka tidak bersedih, kita ingat mereka agar mereka tidak
terlupakan, dan kita rawat mereka agar hidup kita panjang.
“Hanya
sejuk saat bernaung di bawahnya
Bila
rindang, terpaan matahari pun terlempar
Manusia
dan hewan peliharaanya bercengkrama hingga mentari tak terik lagi”
“Mencintai
alam itu tidak selalu dengan mendaki bukit-bukit terjal
Tidak juga mengubur diri dalam tanah
Tetapi, mengasihi alam itu bisa dilakukan dengan hal-hal kecil
mensyukuri setiap pucuk yang tumbuh,
mengilhami warna yang melimpah saat mengiris buah,
dan mengabadikan berkembangnya mawar-mawar
merupakan salah satunya.”