Pengembangan Metode Pembelajaran
Individualized Educational Program (IEP) bagi
Mahasiswa Berkebutuhan Khusus
Berbasis FunAct dalam Meningkatkan Daya Saing di Kancah Internasional
ABSTRAK
Di era persaingan saat ini tidak
dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan Indonesia masih terfokus pada sistem pembelajaran yang umum sehingga hanya dapat digunakan oleh pelajar umum biasanya, tetapi pengajar program studi Manajemen
Pemasaran / Anak Berkebutuhan Khusus di Politeknik Negeri Jakarta merumuskan metode
pembelajaran Individualized Educational
Program (IEP) yang dapat diterapkan kepada Mahasiswa yang mempunyai keterbatasan
dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk
mengembangkan metode pembelajaran Individualized
Educational Program (IEP) bagi Mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct (Syafie’i, 2005) : (i) Fun, (ii) Active, (iii)Creative. Adapun
rumusan masalah penelitian adalah seperti apakah metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP)
bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct? Penelitian dilakukan dengan
pendekatan penelitian pengembangan. Data dikumpulkan dengan melakukan FGD (Focus
Group Discussion) dengan para pengajar program studi Manajemen Pemasaran /
Anak Berkebutuhan Khusus dan Psikolog. Data yang telah terkumpul selanjutnya di
analisis dengan analisis kuantitatif. Hasil penelitiannya adalah metode pembelajaran
Individualized Educational Program
(IEP) bagi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus berbasis FunAct : (i) Membangun keceriaan
agar materi mudah dipelajari, (ii)
memberikan material atau benda yang dapat merangsang keaktifan, (iii)
mengarahkan keaktifannya pada potensi yang ingin diasah .Ujicoba metode pembelajaran
pada mahasiswa berkebutuhan khusus Politeknik Negeri Jakarta periode Mei – Juni
2016 menunjukkan bahwa metode pembelajaran FunAct
mampu meningkatkan semangat dan menciptakan keterampilan yang mampu bersaing
di kancah Internasional baik berupa produk maupun jasa.
Kata Kunci : FunAct, Individuaized Educational Program (IEP), Mahasiswa berkebutuhan khusus, Metodepembelajaran.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seruan International Education
For All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO sebagai kesepakatan global hasil World
Education Forum di Dakar, Senegal tahun 2000, penuntasan EFA diharapkan
tercapai pada tahun 2015. Program ini memungkinkan anak-anak berkebutuhan
khusus untuk memperoleh ilmu pengetahuan di sekolahumum sebagaimana yang
diperoleh anak-anak normal yaitu di sekolah inklusif . Pendidikan inklusif
adalah sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah
reguler. hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 32 dan Permendiknas nomor 70 tahun
2009 yaitu dengan memberikan peluang dan kesempatan kepada anak berkebutuhan
khusus untuk memperoleh pendidikan disekolah reguler mulai dari Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan. Dasar penyusunan
IEP (Individualized Educational Program) dengan penyimpangan/ kelainan
baik fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi lain. Seperti
tunanetra,tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,berbakat, berkesulitan
belajar spesifik, autisdan penyimpangan/kelainan perilaku lainnya. Hasil
penelitian Mulyono (Abdurrahman,
2009: 119) menunjukkan bahwa banyak anak luar biasa termasuk diantaranya yang berkesulitan
belajar, belajar bersama anak normal di Sekolah Dasar tetapi mereka tidak memperoleh
pelayanan pendidikan luar biasa. Hal tersebut menunjukkan pentingnya penerapan
IEP (Individualized Educational Program) yang didefinisikan Mulyono
sebagai bentuk pendidikan yangmemberikan pelayanan pendidikan luar biasadengan
pelayanan pendidikan pada umumnya. Permasalahan
tersebut diperkua tdengan Freiberg (1999:194) yang mengungkapkan “sixty one percent of public schoolteacher
and 54% of private school teacher atthe elementary level reported that they
hadnever had any training in teaching gifted students” bahwa enam puluh
satu persen dariguru sekolah umum dan 54% dari guru sekolah swasta di tingkat
SD melaporkan mereka tidak pernah mendapat pelatihan dalam mengajar siswa
berbakat.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang permasalahan di atas, penulis merumuskanpermasalahan sebagai berikut.
- Bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia untuk mahasiswa berkebutuhan khusus dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional
- Mengapa pengembangan metode pembelajaran IEP bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct penting sebagai upaya peningkatan daya saing di kancah internasional?
- Bagaimana konsep dan implementasi metode pembelajaran IEP bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional?
1.3 Tujuan Penulisan
- Menjelaskan kondisi pendidikan di Indonesia untuk mahasiswa berkebutuhan khusus dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional.
- Menjelaskan pentingnya pengembangan metode pembelajaran IEP bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct penting sebagai upaya peningkatan daya saing di kancah internasional.
- Menjelaskan konsep dan implementasi metode pembelajaran IEP bagi mahasiswa berkebutuhan khusus berbasis FunAct dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional.
1.4 Manfaat Penulisan
1.
Bagi Pemerintah
Pemerintah dapat
menjalankan metode pembelajaran Individualized Educational Program (IEP) bagi mahasiswa
berkebutuhan khusus berbasis FunActsehingga mampumeningkatkan
daya saing di kancah internasional.
2.
Masyarakat
Masyarakat dapat
mendukung karya dari kreativitas mahasiswa berkebutuhan khusus agar dapat
bersaing di kancah internasional.
3. Penulis
Penulis dapat
menambah wawasan dalam meningkatkan daya saing di kancah internasional bagi
mahasiswa berkebutuhan khusus dengan adanya pengembangan metode pembelajaran Individualized
Educational
Program (IEP) berbasis FunAct.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Pendidikan
1.1. Pendidikan di Indonesia
untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus
Sesuai dengan Undang – Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1
dan Undang – Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiaonal
dapat disimpulkan bahwa negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada warga
negara berkebutuhan khusus terlebih untuk para pelajar untuk memperoleh layanan
pendidikan yang bermutu.
Pada saat ini, layanan pendidikan bagi warga negara
berkebutuhan khusus di Indonesia disediakan lembaga atau institusi pendidikan
yang memberikan layanan untuk mahasiswa berkebutuhan khusus, seperti program
studi Manajemen Pemasaran Politeknik Negeri Jakarta yang menjadi wadah bagi
lulusan SMA/SMK LB serta SMA/SMK Inklusi.
2. Metode Pembelajaran IEP
2.1 Pengertian
IEP (Individualized Educational Program)
Menurut Taylor, Smoley & Richards (2009), IEP adalah
sebuah perencanaan program pendidikan siswa yang dirancang oleh sebuah tim.
Metode ini merupakan perangkat perancangan, pengajaran, dan juga perangkat pemeriksaan.
Disebut sebagai perangkat perencanaan karena dalam IEP memuat berbagai target
dalam rentang waktu tertentu yang disusun secara komprehensif. IEP juga berisi
strategi –strategi atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu target dalam
belajar sehingga dapat mencapai hasil sesuai yang ditentukan. Sedangkan disebut sebagai perangkat
evaluasi karena melalui target dan kegiatan yang disusun secara jelas, maka
secara tidak langsung menggambarkan kompetensi yang akan dimiliki mahasiswa ketika
telah menyelesaikan program belajarnya.
Sesuai yang dikatakan oleh UNESCO
(1998:203) bahwa “Kurikulum Program Indivilized
Educational Program (IEP) diperuntukan bagi peserta didik yang memang tidak
memungkinkan menggunakan kurikulum reguler maupun modifikasi. Tingkat kebutuhan
pelayanan khususnya termasuk kompleks”. Kurikulum disini terdapat kurikulum
modifikasi yaitu kurikulum reguler yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswadan Individualized Educational Program
(IEP) yang dikhususkan bagi peserta didik sesuai dengan kondisinya.
Lynch (1994:47) mengemukakan bahwa IEP
merupakan suatu kurikulum atau suatu program pembelajaran yang didasarkan
kepada gaya, kekuatan dan kebutuhan-kebutuhan khusus dalam belajar. Ini
menunjukkan bahwa IEP pada prinsipnya adalah suatu program pembelajaran yang
didasarkan kepada setiap kebutuhan individu. Dari pandangan di atas mengandung pengertian bahwa mahasiswalah
yang harus mengendalikan program, bukan program yang mengendalikan mahasiswa.
IEP menjadi dokumen kerja yang terstruktur berisi langkah – langkah dan teknik
yang berbeda untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran.
3. Modifikasi Kurikulum dan Pembelajaran Tematik
1.Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah
suatu cara utama untuk mengurutkan isi dan tujuan pembelajaran di sekolah, yang
harus diperhatikan guru dan peserta didik selama kegiatan mengajar dan belajar,
sementara tujuan adalah alasan untuk mengajar isi (Walker & Soltis, 2003:
5). Berdasarkan definisi yang diberikan Ross (2000: 9), sebuah kurikulum sekolah
terdiri dari daftar kegiatan-kegiatan yang dirancang dalam kerangka organisasi
untuk mengembangkan intelektual, kepribadian, kecerdasan sosial dan
keterampilan fisik peserta didik.
3.2.Pengertian Modifikasi
Kurikulum
Modifikasi
kurikulum yakni kurikulum rata – rata atau kurikulum regular yang disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan atau potensi mahasiswa berkrbutuhan khusus.
Modifikasi kurikulum ini dilakukan terhadap alokasi waktu, isi, atau materi
kurikulum, proses belajar-mengajar, sarana prasarana, lingkungan belajar, dan
pengelolaan tempat belajar.
Dalam melakukan modifikasi atau
pengembangan kurikulum, tidak serta merta sesuka hati untuk melakukannya. Namun
terdapat landasan –landasan dalam pengembangan dan implementasi kurikulum dalam
program IEP, sebagai berikut.
1.
Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional khususnya pada pasal 5 ayat (1), (2), (3) dan (4),
pasal 6 ayat (1), pasal 12 ayat (1.b), pasal 36 ayat (2) dan penjelasan pasal
15.
2.
Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tanggal
2 Juni 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Mendiknas Nomor 22 dan Nomor 23 Tahun
2006.
3.3.Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
tematik berasal dari kata integrated
teaching and learning atau integrated curriculum approach yang konsepnya
telah lama dikemukakan oleh Jhon dewey sebagai usaha mengintegrasikan
perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan perkembangannya ( Beans, 1993
; udin sa’ud dkk, 2006 ).Definisi lain tentang pendekatan tematik adalah
pendekatan holistic, yang
mengkombinasikan aspek epistemology,
social, psikology, dan pendekatan pedagogic untuk mendidik anak, yaitu
menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu
dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan ( Udin Sa’ud dkk, 2006 ).
Pembelajaran
tematik sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran
yang melibatkan beberapa mata pelajaranuntuk memberikanpangalaman yang bermakna
bagi siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pembelajaran
tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran ini berangakat
dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/ hafalan (drill) sebagai
dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori belajarini
dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang
menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga
pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan
anak.
4. Pengembangan Metode Berbasis FunAct
Pengembangan metode IEP berbasis FunAct merupakan langkah
dan teknik dalam proses pembelajaran mahasiswa berkebutuhan khusus karena di
dalam pengembangan metode ini, mahasiswa dapat memaksimalkan potensi masing –
masing walaupun dengan kecacatan yang berbeda – beda, sebab dalam pengembangan
metode ini mahasiswa diajak untuk tetap tenang tetapi aktif agar tujuan dan
informasi yang disampaikan oleh pengajar dapat tersampaikan kembali dengan
benar. Sehingga keberhasilan dalam pengajaran dapat dilihat dari hasil
pengajaran berbasin FunAct kepada mahasiswa berkubutuhan khusus.
Dengan
pengembangan metode FunAct ini mahasiswa berkebutuhan khusus yang menjadi
target pengajaran dapat lebih aktif dan informasi yang disampaikan oleh
pengejar dan pembimbing dapat tersampaikan dengan baik sesuai dengan tujuan
pembelajaran, karena dalam pengembangan metode ini mahasiswa dituntut aktif dan
kreatif selama proses pembelajaran. Dalam hal ini pengajar atau pembimbing
berperan penting dalam penyampaian informasi kepada mahasiswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah teknik pengamatan langsung dan teknik analisis dokumen. Penulis mengumpulkan data dari berbagai sumber baik buku, jurnal, majalah, maupun artikel guna mendukung karya tulis ilmiah ini.B. Pengolahan Data
Penulis
memperoleh sumber dari data sekunder yaitu data yang digunakan
untuk mendukung dan melengkapi
data primer yang berhubungan dengan
masalah penulisan karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah ini
tidak menggunakan data
primer (data yang diambil secara langsung) melainkan data sekunderyang dapat
berupa kepustakaan, arsip, data dari internet, dan dokumentasi.
Data yang telah dikumpulkan dengan
pertimbangan relevansi, kemudian
disusun, dan diklasifikasikan berdasarkan spesifikasi
pembahasan dan subjudul
yang terkait. Kemudian data dianalisis dan dikaji baik
secara kualitatif maupun
kuantitatif, sesuai dengan jenis, isi, dan informasi yang
terkandung seobjektif mungkin
dan berimbang, yang kemudian disajikan dalam bentuk uraian kutipan teoretis, data numerik
sebagai dasar teori, referensi, dan pertimbangan dalam sintesis gagasan atau
ide yang disusun secara runtut.
C. Analisis Data
Analisis data dalam penulisan
kuantitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai
pengumpulan dalam periode tertentu.
D. Kerangka Berpikir
Masalah
daya saing mahasiswa Indonesia berkebutuhan khusus di kancah internasional
|
Sulitnya
memahami pelajaran
|
Potensi yang dimiliki tidak berkembang (explore)
|
Hasil kreativitas masih sulit diterima oleh masyarakat
luas
|
Terbatasnya
tempat untuk mahasiswa bekebutuhan khusus dalam mengembangkan potensi
|
Keterbatasan
komunikasi dan sosialisasi
|
Kurangnya dukungan
masyarakat luas dalam mengembangkan potensi
|
Pendidikan
di Indonesia masih cenderung menggunakan metode pembelajaran mahasiswa non
berkebutuhan khusus
|
Perlu
adanya upaya peningkatan metode pembelajaran untuk mahasiswa berkebutuhan
khusus
|
Adanya metode
pembelajaran Individualized Educational
program (IEP) di sekolah formal
|
Penerapan metode
pembelajaran Individualized Educational
Program (IEP) oleh pengajar di Politeknik Negeri Jakarta
|
Banyak
tempat untuk mengemangkan potensi
|
Potensi
sumber daya manusia (SDM) teroptimalisasi
|
Adanya dukungan
masyarakat luas
|
Kemampuan
mahasiswa berkebutuhan khusus teroptimalkan
|
Daya
saing di kancah internasional meningkat
- Prestasi Mahasiswa berkebutuhan khusus meningkat
|
Gambar 1.
Kerangka Berpikir Pengembangan Metode Pembelajaran Individual Education
Program (IEP) bagi Mahasiswa Bekebutuhan Khusus Berbasis FunAct dalam
Meningkatkan Daya Saing di Kancah International
|
BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia
Dewasa ini
peran lembaga pendidikan sangat menunjang tumbuh kembang dalam berolah system
maupun cara bergaul dengan orang lain. Selain itu lembaga pendidikan tidak hanya
sebagai wahana untuk system bekal ilmu pengetahuan, namun juga sebagai lembaga
yang dapat memberi skill atau bekal untuk hidup yang nanti diharapkan dapat
bermanfaat didalam masyarakat. Sementara itu lembaga pendidikan tidak hanya di
tunjukkan kepada anak yang memiliki kelengkapan fisik, tetapi juga kepada anak
yang memiliki keterbelakangan mental. Mereka dianggap sosok yang tidak berdaya,
sehingga perlu di bantu dan di kasihani untuk mengatasi permasalahan tersebut
perlu di sediakan berbagai bentuk layanan pendidikan atau sekolah bagi mereka.
Pada dasarnya pendidikan untuk berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak-
anak pada umumnya. Disamping itu pendidikan luar biasa, tidak hanya bagi anak – anak yang
berkebutuhan khusus, tetapi juga di tujukan kepada anak-anak normal yang
lainnya. Beberapa sekolah telah dibuka bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini.
System pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan siswa menjadi salah satu
keunggulan yang ditawarkan sekolah –
sekolah ini. Jadi anda tidak perlu khawatir dengan masa depan anak anda karena
sekolah ini membekali anak untuk bisa hidup mandiri dalam hidupnya dengan
segala kekurangan dan kelebihannya.
B. Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia
Anak
Berkebutuhan Khusus di Indonesia diperkirakan antara 3-7 % atau sekitar 5,5-10,5
juta anak usia di bawah 18 tahun menyandang ketunaan atau masuk kategori anak
berkebutuhan khusus. “Apabila
ditambah dengan anak-anak yang menggunakan kacamata, jumlahnya akan lebih
banyak lagi,”Prof
dr Sunartini, SpA (K), PhD dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar pada Fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta di gedung senat perguruan
tinggi itu, Kamis (28/5). Secara global, tuturnya,diperkirakan ada 370 juta
penyandang cacat atau sekitar 7 persen populasi dunia, kurang lebih 80 juta
diantaranya membutuhkan rehabilitasi. Dari jumlah tersebut, hanya 10 persen
mempunyai akses pelayanan. Istilah anak berkebutuhan khusus adalah klasifikasi
untuk anak dan remaja secara fisik, psikologis dan atau sosial mengalami
masalah serius dan menetap. Anak berkebutuhan khusus ini dapat diartikan
mempunyai kekhususan dari segi kebutuhan layanan kesehatan, kebutuhan
pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, pendidikan inklusi, dan kebutuhan
akan kesejahteraan sosial dan bantuan sosial.
C. Pentingnya Pengembangan Metode Pembelajaran IEP Bagi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus.
Kata program
berasal dari Bahasa Inggris, yaitu Programe yang mengandung arti rencana atau
rencana kegiatan. Dengan mengacu pada arti kata program yang berarti rencana,
maka program pendidikan untuk berkebutuhan khusus dalam tulisan ini diartikan
sebagai rencana kegiatan pendidikan yang akan diberikan kepada anak
berkabutuhan khusus di sekolah-sekolah khusus dan di sekolah-sekolah regular
yang menerapkan system pendidikan. Program pendidikan yang cocok dan sesuai
dengan kebutuhan mereka ialah program pedidikan individual yang biasa disingkat
“PPI. Program
pengembangan pendidikan individual (PPI) untuk anak yang berkebutuhan khusus
dikembangkan dengan melalui berbagai proses atau tahap-tahap pengembangan dan
pelaksanaan program pengembangan pendidikan individual, yaitu mencakup tahap:
penjaringan dan identifikasi peserta didik yang berkelainan dan/atau memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa, melakukan rujukan ke tim pendidikan khusus,
melakukan pertemuan tim, malakukan asesmen, melakukan pertemuan tim asesmen,
menyusun program pendidikan individual (PPI), melaksanakan program pendidikan
individual, dan evaluasi pelaksanaan program pendidikan individual
(Depdiknas,tahun 2003:30). Pada tahap penjaringan dan identifikasi yang perlu
dilakukan oleh semua satuan pendidikan khusus ialah menemukan atau menjaring
semua peserta didik yang berkebutuhan khusus yang berhak memperoleh pendidikan
khusus. Program penjaringan umumya mencakup program tes hasil belajar atau tes kelompok yang lain, penyebaran angket
kepada guru-guru untuk mengidentifikasi peserta didik yang menunjukkan
gejala-gejala yang bermasalah. Program kampanye kepedulian bertujuan untuk
memeberikan informasi kepada masyarakat tentang tersedianya berbagai layanan
kepada penyandang kalainan. Survey
juga dapat dilakukan untuk menjaring dan mengidentifikasi anak yang
berkebutuhan khusus dengan melakukan survey kepada tokoh masyarakat, dokter,
tenaga paramedis, dan pihak lainnya agar anak berkebutuhan khusus yang belum
terjangkau pendidikan dapat diidentifikasi. Tahap rujukan ke Tim Pendidikan
Khusus sebagai tahap pengembangan dan pelakasanaan program pendidikan program
pendidkan individual (PPI), dimaksudkan yaitu setiap peserta didik yang
diketahui menunjukkan tanda-tanda bermasalah akan dirurjuk kepada Tim
Pendidikan Khusus. Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik sehingga
perlu dirujuk ialah karena peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas
sekolah, kesulitan bergaul dengan teman, kemampuan membaca yang rendah, tidak
mampu memusatkan perhatian, prestasi belajar yang dicapai jauh dibawah
teman-teman sekelasnya, dan karena anak mengalami gangguan mobilitas karena
kondisi fisik, dan sebagainya. Tahap pertemuan Tim Rujukan dalam pengembangan
pelaksanaan program pendidikan individual (PPI) bertujuan memeprtemukan semua
tenaga profesi yang pernah atau sedang menangani peserta didik yang dirujuk
sehingga informasi tentang peserta didik yang bersnagkutan dapat diperoleh dengan
lengkap. Program pendidikan individual (PPI) yang telah disusun secara resmi
lalu dilaksanakan kepada peserta didik yang berkebutuhan dalam proses pembelajaran dikelas. PPI
dilakukan dalam kelas agar para pengajar mampu membimbing anak berkebutuhan
khusus melalui kelebihan atau bakat yang dimiliki setiap aanak berkebutuhan
khusus tersebut.
D. FunAct (Fun, Active, and Creative)
FunAct merupakan sebuah inovasi
program yang bertujuan untuk memudahkan anak berkebutuhan khusus dalam menyerap
pelajaran dalam sekolah formal maupun non formal melalui pengembangan metode pembelajaran Individualized Educatioal Program (IEP). FunAct
merupakan serangkaian kegiatan usaha dibidang pendidikan khususnya untuk
anak berkebutuhan khusus melalui pengajaran yang Fun (menyenangkan ), Active
(keaktifan), dan Creative (kreatif).
Sehingga melalui pengembangan metode pembelajaran berbasis FunAct dapat
mempermudah dalam mengembangkan bakat yang dimiliki para anak berkebutuhan
khusus.. Sistem kerja FunAct berjalan
dengan diintegrasikan melalui para pengajar dalam lembaga formal sebagai
lembaga pendidikan. Sasaran utama program ini adalah
pemuda-pemuda yang memiliki kekurangan baik secara fisik maupun mental (ABK),
yang memiliki keterampilan dan kreativitas. Melalui FunAct para pemuda akan
diberdayakan melalui program belajar yang nantinya akan difokuskan pada
kelebihan yang mereka miliki. Harapannya para pemuda berkebutuhan khusus dapat
meningkatkan kreatifiasnya agar mampu memiliki usaha yang dikelola secara
mandiri sehingga dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakatlain yang
dapat meningkatkan perekonomian Indonesia dan prestasi Indonesia di kancah
Internasional.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Paparan
dan penjelasan di atas yang dihasilkan dari proses penelitian, wawancara,
observasi, Forum Group Discution (FGD),
dan reverensi berbagai data. Maka penulis dapatmenyimpulkan bawa metode IEP
berbasis FunAct ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan kepada Mahasiswa
Berkebutuhan Khusus, karena dengan adanya basis FunAct dalam metode IEP
kurikulum yang telah dimodifikasi dapat menyesuaikan dengan kemapuan siswa
didik sehingga dampaknya anak tidak berat dalam proses belajar dan menimbulkan
tingkat tekanan yang tinggi selama proses belajar, karena dengan basis ini
pengajar dapat langsung mengetahu minat dan bakat. Dengan adanya basis ini,
pendidikan untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus mempunyai acuan dengan langkah –
langkah yang jelas untuk menimbulkan komunikasi yang lebih dekat dengan
pengajar baik dengan cara diskusi atau bermain dengan alat yang dapat membantu
sehingga rangsangan kreativitas mahasiswa untuk lebih mengeksplorasi minat dan
bakat agar dapat di arahkan untuk bersaing di kancah internasional.
5.2 Saran
Dengan
adanya program tersebut kurikulum dapat menyesuaikan dengan kemampuan peserta
didik sehingga dampaknya anak tidak merasa tertekan ketika menghadapi
pembelajaran dan dapat menganalisan minat bakat secara cepat karena keaktifan
dan kekreatifan peserta didiklah sebagai proses untuk mencapai tujuan yang
diinginkan pengajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan
Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Freiberg, Karen. 1999. Education
Exceptional Children. Amerika: University of Maryland.
Undang – Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang – Undang Nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiaonal.
Taylor, Smoley
& Richards (2009). Individualized
Educational Program (IEP).
UNESCO,
(1998). Learning: The Treasure Within. Report to UNESCO of the International
Commission on Education for The Twenty first Century, Perancis: Paris.
Lynch, James. 1994. Proyection for
Children with Special Need Education in Asian Regio. USA: The World Bank.
Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang
Pelaksanaan Peraturan Mendiknas Nomor 22 dan Nomor 23 Tahun 2006.
Beans,
1993; udin sa’ud dkk, 2006. Integrated
Teaching And Learning
Tulisna, Tina. 2012.
Perkembangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Retrieved from : http//m.kompasiana.com.visited
page on 19/05/2012 22:22.
Sarlito, Wirawan Sarwono.
2010. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Dariyo, Agoes.
2007. Psikologi
Perkembangan Anak 3 Tahun Pertama. Bandung:
Revika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar