Kamis, 11 Agustus 2016

Pembangunan Sekolah Aku Cinta Indonesia (SACI) dalam Meningkatkan Rasa Nasionalisme

Pembangunan SACI Untuk Mempertahankan Nasionalisme (Sosial-Budaya)  di Era Globalisasi Indonesia

Pendahuluan
Di era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan suatu negara bisa dikatakan  sudah mengalami kemajuan. Mempunyai negara yang maju memang harapan semua masyarakat, dan kini hampir semua negara telah mengalami kemajuan tersebut. Mulai dari kemajuan ilmu pengetahuan, tekhnologi, transportasi, bahkan budaya sekalipun, itu semua karena pengaruh dari globalisasi. Akibat dari pengaruh globalisasi tersebut banyak dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan. Dampak positif dari pengaruh globalisasi sudah bisa kita rasakan sendiri, yaitu teknologi yang semakin canggih, kemajuan alat transportasi, dan ilmu pengetahuan lebih luas. Tetapi dalam dampak negatifnya yaitu banyak budaya Barat yang masuk ke negara Indonesia. Akibat pengaruh budaya tersebut, banyak generasi muda yang lebih memilih budaya Barat daripada budaya tradisionalnya yang mengakibatkan rasa cinta terhadap tanah airnya mulai menghilang. Itu dikarenakan pola pikir mereka yang menganggap jika budaya barat itu lebih modern dan lebih populer, sehingga kesadaran mereka dalam melestarikan budaya tradisional menurun.Perilaku dunia Barat, Khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia (Ngungi Wa Thiong’o, 2010). Mereka berusaha menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari identitas budayanya. Perilaku tersebut sangat merugikan masyarakat dunia khususnya negara Indonesia yang kaya akan budayanya tetapi rakyatnya sendiri dapat dikelabuhi oleh masyarakat negara Barat. Saat ini keberadaan budaya tradisonal di negara Indonesia sangat memperihatinkan. Dahulu, budaya tradisonal di negara Indonesia tak terhitung jumlahnya karena begitu banyak ragamnya mulai dari tarian tradisional, alat musik tradisional, bahasa tradisional, dan kebudayaan lainnya. Tetapi sekarang budaya tradisional dinegara kita sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada.
Dalam menyikapi hal ini pemuda Indonesia harus memerhatikan dan mempertahankan budaya yang ada di Indonesia terlebih di era globalisai ini. Maka dari itu penulis terdorong membuat sekolah yang digunakan untuk memperkenalkan, mengajarkan dan melestarikan budaya Indonesia agar pemuda Indonesia tetap cinta terhadap budaya di negara nya sendiri.                            
           
Isi ( Pembahasan)
MenurutAbdulgani (2005) arti dari nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Rasa nasionalisme ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Nasionalisme dapat diwujudkan dengan adanya rasa bangga dan cinta terhadap negara Indonesia tetapi, tidak berarti  merasa lebih hebat dan unggul daripada bangsa dan negara lain. Kebanggaan dan kecintaan terhadap Indonesia dapat terlihat dari cara masyarakat indonesia  menerapkan kebudayaan yang ada pada negara Indonesia. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia (Prof.Dr.Koentjoroningrat, 1985). Kebudayaan dapat diartikan bahwa setiap kebiasaan  masyarakat dapat dijadikan budaya atau adat masyarakat tersebut. Budaya yang menjadikan ciri khas negara Indonesia, yaitu masyarakat Indonesia yang dikenal ramah – tamah, sopan dan gotong-royong dan juga kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia seperti tarian tradisional, alat musik tradisional, bahasa tradisional dan kebudayaan lainnya. Dengan adanya perubahan zaman, budaya yang ada pada indonesia mulai hilang, ini di sebabkan adanya era globalisasi. Globalisasi adalah proses koneksi global ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang semakin mengarah keberbagai arah diseluruh penjuru dunia dan merasuk kedalam kesadaran kita (Barker, 2004). Pada era globalisasi ini banyak dampak yang dirasakan oleh Indonesia baik dampak positif maupun negatif. Pada era ini pula terjadinya perubahan dari segi politik, ekonomi dan terlebih nilai – nilai budaya yang ada di Indonesia.
Di era globalisai ini kondisi budaya Indonesia sangat memperihatinkan. Adanya arus globalisasi telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa indonesia. Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (transportasi, telekomunikasi, dan teknologi) mengakibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri. Budaya Indonesia yang awalnya ramah – tamah, gotong – royong dan sopan berganti dengan budaya Barat, misalnya pergaulan bebas. Hal yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang tua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan Kau atau Kamu sebagai pertimbangan nilai rasa. Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata Gue (saya), dan Lu (kamu). Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi nilai kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Budaya berpakaian minim yang dipakai oleh remaja Indonesia dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri  yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron yang digemari para remaja di Indonesia. Dalam seni tari juga para pemuda Indonesia lebih menjunjung tinggi tarian dari luar Indonesia misalnya negara korea yang banyak terdapat boyband atau dapat dikatakan sebagai kepopers (untuk penggemar boyband korea tersebut) dibandingkan cinta terhadap tarian tradisonal negaranya sendiri. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya Barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan baik. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Indonesia sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai budaya Indonesia. Sekarang ini, kebiasaan – kebiasaan orang Barat yang telah membudaya hampir dapat disaksikan setiap harimelalui budaya eleketronik dan cetak, celakanya kebudayaan orang-orang barat tersebut yang sifatnya negatif dan cenderung merusak serta melanggar norma-norma Indonesia, sehingga ditonton dan ditiru oleh masyarakat Indonesia terutama para remaja yang ingin kebebasan seperti orang-orang barat. Contoh kebudayaan barat yang telah menjamur di Indoensia yaitu cara berpakaian dan mode, film, tarian dan tingkah laku. Menyikapi hal ini penulis terdorong untuk melakukan suatu gerakan dengan membangun SACI (Sekolah Aku Cinta Indonesia).
SACI (Sekolah Aku Cinta Indonesia) ini terdapat beberapa jenis kelas yang digolongkan berdasarkan kebutuhan masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda Indonesia. Didalam sekolah ini terdapat kelas seni tari, seni musik, keputrian, dan sejarah Indonesia. Pertama, pada kelas seni tari para siswa diajarkan berbagai tarian daerah Indonesia agar tarian Indonesia tetap terjaga dan terus dilestarikan. Kedua, kelas seni musik, pada kelas ini siswa diajarkan untuk mengenal musik daerah yang ada di Indonesia baik peggunaan alat musik maupun lagu daerahnya. Ketiga, keputrian, pada kelas ini dikhususkan untuk para siswa perempuan, dikelas ini diajarkan tentang keputrian baik cara berbicara dengan sopan santun, berpakaian, cara menjahit dan kegiatan keputrian lainnya. Keempat, kelas sejarah Indonesia, pada kelas ini diajarkan tentang pengetahuan sejarah Indonesia agar para generasi muda Indonesia mengetahui perjuangan para pejuang Indonesia terdahulu.
Tujuan dibangunnya sekolah ini adalah agar para generasi muda Indonesia tetap bangga dan cinta terhadap budaya bangsa dan negaranya sendiri, lebih menghargai jasa para pejuang terdahulu, tetap melesatikan budaya Indonesia dan memberikan prestasi kepada negara Indonesia di kancah dunia melalui pelestarian budaya yang dilakukan di Sekolah Aku Cinta Indonesia (SACI).
Kesimpulan dan Saran
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan arti dari nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia. Globalisasi adalah proses koneksi global ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang semakin mengarah keberbagai arah diseluruh penjuru dunia dan merasuk kedalam kesadaran kita. Sejak zaman dahulu negara Indonesia sudah memiliki banyak kebudayaan yang asli (tradisonal) tanpa adanya campur tangan budaya asing, namun dengan perkembangan zaman budaya yang melekat pada negara Indonesia  mulai hilang. Ini diakibatkan adanya era globalisasi. Pada era globalisasi kebudayaan di indonesia seperti tari tradisional, musik tradisional, bahasa tradisional dan cara berperilaku masyarakat Indonesia. Agar budaya Indonesia tetap terjaga maka dari itu dibuatlah Sekolah Aku Cinta Indonesia. Dalam sekolah ini terdapat beberapa jenis kelas diantaranya kelas seni musik, seni tari, keputrian dan sejarah Indonesia. Tujuan dibangunnya sekolah ini adalah agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda Indonesia tetap bangga dan cinta terhadap budaya Indonesia dan memberikan prestasi kepada negara Indonesia di kancah dunia melalui pelestarian budaya yang dilakukan di Sekolah Aku Cinta Indonesia (SACI). Pembangunan sekolah ini juga, agar para pemuda Indonesia tidak selalu bangga terhadap budaya asing dan meninggalkan budaya tradisional (budaya Indonesia). Apabila pemikiran generasi muda tidak pulih kembali untuk mencintai budaya tradisionalnya, cepat atau lambat pasti kebudayaan Indonesia akan jauh lebih terkikis. Oleh karenanya, sebelum itu terjadi, kita sebagai para generasi muda harus berani memperjuangkan kembali kebudayaan tradisional yang sudah nenek moyang kita wariskan kepada kita dan meningkatkan rasa nasionalisme terhadap sosial budaya yang ada pada negara Indonesia.



Daftar Pustaka

Agustianto (2011). Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli. Retrieved from http://mediabacaan.blogspot.in/2011/03/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html
Fahmi, Zakiul (2014). Pengaruh Globalisasi Terhadap Eksistensi Kebudayaan. Retrieved from http://docs.google.com/document
Janwar, Isromi (2014). Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli. Retrieved from http://dilihatnya.com/1178/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli.
Muhamad (2015). Pengertian Kebudayaan Menurut Para Ahli. Retrieved from http:///nasionalisme.com/1325/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli.
Sahajani  (2011). Perubahan Kebudayaan di masa lalu,masa sekarang, dan masa yang akan datang. Retrieved from http://sahajani-blogspot-in/2011/12/perubahan-kebudayaan-di-masa-lalu-di-masa.html.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar