Perkembangan teknologi di Indonesia pada masa modern ini sangatlah merubah pola hidup masyarakat Indonesia. Salah satu faktor yang berpengaruh besar dalam pembangunan dan juga perusakan karakter masyarakat atau bangsa adalah media elektronik, dengan pelaku utamanya adalah televisi (Tim Pakar Yayasan Jati Diri Bangsa, 2011). Dampak dari adanya media elektronik telah dibuktikan secara nyata oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, melakukan pendidikan bangsa untuk menguatkan karakter bangsa melalui tulisan-tulisan di surat kabar waktu itu. Perkembangan alat bantu yang sangat pesat , merubah seluruh kehidupan manusia sehingga manusia menjadi sangat bergantung kepada teknologi yang ada. Perubahan yang pesat memaksa berbagai cara untuk membawa perspektif pendidikan. Peran media ada tiga, yaitu sebagai penyampai informasi, edukasi, dan hiburan (Oetama, 2006). Salah satu kebutuhan primer yang membawa dampak yang sangat kompleks adalah berkembangnya media elektronik sebagai sebuah sarana pendidikan tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Media elektronik mempunyai pengaruh besar dalam membangun multicultural yang ada. Media elektronik ini dapat berdampak positif tetapi juga dapat menjadi sebuah senjata ampuh dalam menjatuhkan karakter manusia. Media elektronik ini sangat berpengaruh terhadap perilaku, pola pikir, dan kebiasaan generasi muda di Indonesia.
Ironisnya, Indonesia adalah Negara dunia ketiga yang tingkat buta hurufnya masih tinggi, media elektronik khususnya televisi memegang peran besar dalam penyebaran informasi. Televisi menjadi semacam kebutuhan karena sosialisasi budaya baca kurang berkembang di Indonesia. Masalah yang datang adalah ketika sarana yang begitu efektif tersebut justru menyebarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Begitu banyak program yang dibuat tanpa memikirkan tanggung jawab moral terhadap para penonton muda. Kita semua tahu generasi muda bangsa ini semakin kehilangan jati diri dan rasa cinta tanah airnya. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh program televisi yang menyebarkan “budaya instant”. Beberapa program menggambarkan budaya korupsi, budaya materialisme, bahkan banyak program gosip yang sedemikian merasuki pikiran penonton sehingga di dalam pergaulan dan sosialisai mereka justru membicarakan hal-hal yang mencampuri urusan pribadi orang lain. Berbagai sinetron dan infotainment yang semakin marak disiarkan di layar kabar setiap hari adalah salah satu contoh betapa misi edukasi justru semakin terpinggirkan, belum lagi tayangan-tayangan yang menyuguhkan kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Yang terjadi sekarang, masyarakat dibuat cemas dengan serbuan berbagai sinetron yang semakin melampaui batas “wajar”. Bayangkan saja, betapa mirisnya kita sebagai penonton televisi yang setiap hari dijejali dengan sinetron yang tidak berkualitas dan isinya hanya “manajemen konflik” antar tokoh, dan lebih banyak mengumbar hedonisme, bahkan mendoktrin kita untuk menerima dengan gamblang pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Menurut hasil penelitian American Psychological Asociation (APA) pada tahun 1995 terungkap bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Adapun tayangan yang kurang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan, penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak ( Zubaedi, 2011)
Dalam menyikapi hal ini generasi muda di Indonesia dapat memperhatikan fungsi atau kegunaan suatu media elektronik. Media elektronik ini pun juga digunakan secara bijaksana dan arif untuk tetap menjaga karakter yang baik pada generasi muda Indonesia dan tidak terkontaminasi oleh dampak negatif media elektronik tersebut khususnya tayangan pada televisi. Maka dari itu penulis akan memeberikan solusi dalam menyikapi pengaruh media elektronik di era modern ini terhadap karakter generasi muda di Indonesia yaitu, dengan menerapkan sistem yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari secara mudah dan fleksible.
Dalam buku pengantar ilmu komunikasi (Cangara,2006:119), media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Sedangkan menurut Fitrzgerald, Higginbotham, & Grabel (2008), elektronika adalah cabang ilmu listrik yang bersangkutan secara luas dengan alih informasi menggunakan tenaga elektromagnetik. Jadi, media elektronik adalah alat atau sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak menggunakan tenaga elektromagnetik atau aliran listrik. Alat ini sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari – hari terkhusus untuk generasi muda yang ada di Indonesia. Tetapi, media elektronik dapat berdampak negatif terhadap generasi muda di Indonesia. Alat ini memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai sarana Informasi, Hiburan dan Pedidikan (Edukasi). Di Indonesia media elektronik sudah banyak digunakan sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatiaan dan kemauan belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar (Miarso, 2004). Dalam proses pembelajaran tidak hanya diajarkan dalam aspek intelektual saja (hard skill) tetapi juga diajarkan dalam aspek karakter (soft skill). Telah dibuktikan berdasarkan penelitian di Harvard Univesity Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata oleh pengetahuan dan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill), penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan 80% oleh soft skill. Dari hasil penelitian tersebut telah dibuktikan bahwa pendidikan karakter generasi muda di Indonesia harus lebih ditingkatkan agar mencapai kesuksesan. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan susana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadiaan yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat ( UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003). Karakter adalah ciri khas yang dimiliki suatu benda atau manusia (Hermawan Kertajaya, 2010). Jadi pendidikan karakter adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya dan ciri khas atau kepribadiannya. Pendidikan karakter ini untuk membantu generasi muda di Indonesia dalam menghadapi adanya peran media elektronik terhadap karakter mereka. Pendidikan karakter tidak hanya didapat dalam lembaga formal saja (SD, SMP, SMA, Universitas) tetapi dapat diperoleh dimana saja (Lingkungan sekitar). Pendidikan karakter juga tidak lepas dari peran media elektronik seperti di Indonesia sudah banyak menggunakan televisi, radio, komputer, Handphone dan lain sebagainya.
Di Indonesia media elektronik sangat berguna untuk alat bantu dalam pembelajaran baik pembelajaran intelektual maupun karakter. Media ini sangat berpengaruh besar tehadap salah satu fungsi media elektronik itu sendiri yaitu edukasi (Pendidikan). Di dalam pendidikan, media elektronik dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahan penggunanya khususnya generasi muda di Indonesia. tak bisa kita pungkiri anak muda atau remaja adalah individu yang tingkat keingintahuan akan sesuatu sangat tinggi. Maka dari itu generasi muda di Indonesia sangat bergantung pada media elektronik seperti televisi, radio, handphone dan lain sebagainya. Namun tak bisa kita pungkiri media elektronik ini dapat berdampak positif dan negatif bagi pengguna. Dapat kita lihat dari penggunaan media elektronik di indonesia, penggunaan televisi sangat berguna jika pengguna dapat menonton tayangan televisi seperti berita yang akan menambah pengetahuan, handphone yang digunakan untuk mencari pengetahuan melalui internet, play station digunakan untuk hiburan semata saat bosan akan berdampak positif. Namun sebaliknya generasi muda di Indonesia menggunakan media elektronik tidak sesuai dengan fugsi media elektronik tersebut atau digunakan diluar batas “wajar”, seperti televisi, handphone, dan play station yang lebih memberikan nilai kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Tentu nilai pada media elektronik tersebut sangat menyingkirkan nilai edukasi. Tidak hanya intelektual saja yang hancur tetapi karakter generasi muda di Indonesia juga hancur. Ini digambarkan dengan maraknya perilaku tindak kekerasan, pornografi dan pornoaksi yang dilakukan anak dibawah umur, belum lagi adanya imitasi gaya budaya barat yang tidak sesuai dengan nilai budaya di Indonesia. berita terkini tentang terbunuhnya dosen oleh mahasiswa karena masalah nilai yang terjadi di Medan (Kompas, 3 Mei 2016) ini membuktikan pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan terlebih pendidikan karakter di Indonesia. hal ini dapat diakibatkan karena generasi muda di Indonesia beranggapan pendidikan yang menentukan keberhasilan mereka adalah intelektual saja sehingga mereka mengabaikan faktor lain yang akan menghancurkan keberhasilan mereka melalui karakter atau kepribadian mereka. Faktor utama yang menyebabkan mereka beranggapan seperti itu adalah pendidikan di indonesia lebih cenderung pada penilaian ulangan yang ada di sekolah saja, jarang menilai seseorang dari kepribadiannya. Seperti budaya menyontek di Indonesia ini disebabkan karena tujuan utama mereka belajar adalah mendapatkan nilai tinggi, tidak memperhatikan proses untuk mendapatkan nilai tinggi tersebut dan juga disebabkan pendidikan karakter di Indonesia sangat rendah. Oleh karena nya banyak orang sukses di Indonesia yang memiliki kepribadian berkulitas jumlahnya sangat rendah. Dalam menyikapi hal ini penulis terdorong untuk lebih menggencarkan pendidikan karakter dalam menghadapi peran media elektronik untuk para generasi muda di Indonesia yaitu dengan menerapkan sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) yang berdasarkan penelitian penulis dalam hal ini.
Sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) adalah salah satu sistem yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari – hari dengan cara yang mudah dan fleksible diterapkan oleh semua kalangan khususnya generasi muda di Indonesia. Pertama, Social (Sosial) yaitu hubungan seseorang kepada orang lain, jika generasi muda di Indonesia lebih sering bersosialisasi terhadap orang lain, maka akan mengetahui perilaku yang baik atau buruk, lebih mengeahui jati diri sendiri dari lingkungan sekitar dan dapat belajar dari pengalaman orang lain. Kedua, Activity (Aktivitas), maksud dari aktivitas ini adalah dengan banyaknya melakukan kegiatan selain rutinitas seperti berorganisasi maka akan membentuk kepribadian seseorang dengan sendirinya tanpa imitasi gaya seseorang atau budaya orang lain akibat penggunaan media elektronik yang berlebihan. Ketiga, Control ( Pengendalian), dalam segi pengendalian generasi muda dapat mengendalikan sikap dan perilaku yang akan mereka lakukan seperti penggunaan media elektronik tidak di luar batas wajar, digunakan sesuai kegunaan dan fungsinya. Keempat, Goverment Agency (Lembaga Pemerintahan), di dalam lembaga pemerintahan dibiasakan untuk bersikap jujur dalam melakukan sesuatu seperti dalam sekolah formal membiasakan diri bersikap jujur tidak membudayakan sikap menyontek dan untuk lembaga pemerintahannya sendiri lebih memperhatikan aspek kepribadiaan seseorang dibandingkan dengan penilaian secara intelektualnya saja. Kelima, Freedom ( Kebebasan ), seseorang akan merasa senang jika ia tidak berada dalam tekanan (kebebasan) untuk meng-explor kemampuan yang dimilikinya sehingga kepribadian seseorang terbentuk dengan sendirinya dan akan merasa nyaman melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya jika di dukung oleh orang disekitarnya. Dari ke lima unsur penerapan Sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) masih saling berkaitan satu sama lain, sistem ini tidak dapat berdiri dengan sendirinya tanpa adanya keterkaitan unsur lainnya.
Tujuan dibuatnya sistem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom) yaitu suatu langkah untuk membentuk kepribadian yang arif dengan adanya peran media elektronik di Indonesia, merubah pemikiran banyak orang khususnya generasi muda bahwa pendidikan tidak hanya intelektual saja tetapi pendidikan karakterlah yang banyak membuktikan kesuksesan seseorang dengan didukung adanya media elektronik, merubah pemikiran generasi muda di Indonesia bahwa pendidikan karakter tidak hanya di dapat dalam lembaga formal saja tetapi juga didapat dalam lingkungan sosial, dan membatasi penggunaan media elektronik secara berlebihan ( diluar batas wajar penggunaan) lebih banyak belajar dalam kehidupan sehari – hari (lingkungan sosial),
Dari pemamparan diatas, dapat disimpulkan media elektronik adalah alat atau sarana untuk menyampaikan pesan kepada khalayak menggunakan tenaga elektromagnetik atau aliran listrik. Media elektronik ini memiliki tiga fungsi yaitu sebagai penyampai informas, hiburan dan pendidikan. Di Indonesia fungsi dari media elektronik tersingkirkan karena adanya pengaruh pesatnya kemajuan teknologi sehingga informasi dari luar Indonesia dapat masuk secara mudah baik informasi positif dan negatif. Faktor lain yang menyebabkan fungsi pendidikan tersingkirkan adalah media elektronik lebih memberikan nilai kekerasan, pornografi dan pornoaksi serta budaya matrealisme dan hedonisme. Di samping itu juga pendidikan karakter di indonesia sangat rendah. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif , mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya dan ciri khas atau kepribadiannya. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata oleh pengetahuan dan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill), tetapi sebaliknya di negara indonesia lebih mengutamakan pendidikan dari segi hard skill. Hal ini menyebabkan karakter masyarakat di Indonesia khusunya generasi muda mulai runtuh disebabkan oleh adanya media elektronik yang di konsumsi tidak secara arif dan bijaksan. Menyikapi hal ini penulis terdorong untuk membuat sisitem SACGAF (Social, Activity, Control, Goverment Agency, and Freedom). Sistem ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara fleksible dan mudah dengan tujuan utama yaitu membentuk kepribadian yang arif dengan adanya peran media elektronik di Indonesia.
Oleh karena itu penulis menyarankan untuk pihak :
1.Generasi muda di Indonesia, yaitu menggunakan media elektronik secara arif dan bijaksana agar fungsi dari media elektronik tidak tersingkirkan khususnya dalam segi pendidikan.
· Orang tua, yaitu agar selalu mengontrol keseharian anak seperti memperhatikan tayangan yang di konsumsi oleh anak dan pendidikannya baik hard skill maupun soft skill untuk mengindari dampak negatif adanya peran media elektronik.
Daftar Pustaka
Budiyono, Kabul.2007. Nilai-nilai Kepribadian dan Kejuangan Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Dagwanwin, Donal (2015). 10 Pengertian Karakter Menurut Para Ahli Terlengkap. Retrieved fromhttp://www.galeripengetahuankita.com/.2015/12/10-pengertian-karakter-menurut-para-ahli.html
Fahrizal, Derry (2014). Menghadapi Tantangan Global: Peranan Media. Retrieved from http://m.kompasinia.com/ derryfahrizal/menghadapi-tantangan-global-peranan-media.html
Hengky, Dian & Mirna (2013).Peranan Media Massa Dalam Pembentukan Karakter. Retrieved from http://www.fkipunsa.ac.id/peran-media-massa-dalam-pembentukan-karakter-2/.html
Hilmy, Rozan (2014). Peran Media Dalam Membentuk Karakter Pelajar. Retrieved from http//m.kompasiana.com/rozanhilmy/peran-media-dalam-membentuk-karakter-pelajar.html
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter “Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional”. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiarto, Agus (2015). Pengertian Elektronika Menurut Para Ahli. Retrieved from http://news.indonesiakreatif.net/pengertian-elektronika.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar