Selasa, 29 Oktober 2019

Bertanya Pada Manusia, Siapa sih manusia itu?


SIAPA SIH MANUSIA ITU?

         Dunia ini sangat lucu teman, ya sangat lucu. Kadang rasa aneh pada diri sendiri sering muncul secara seketika. Sampai – sampai menurut ku kesendirian adalah hal yang lebih baik untuk aku lakukan dibaandingkan dalam keramaian. Namun aku dikenal dengan orang ramai karena aku bergabung dalam beberapa lingkaran sosial, aneh bukan. Entah apa yang membuat kondisi sekitar yang membuatku selalu berfikir apa yang salah pada Dunia ini? Atau memang aku yang tak bisa hidup berdampingan dengan keadaan?. Salah satu yang aku herankan tentang isi dunia ini adalah manusia. Ada beberapa hal yang aku herankan dengan manusia tentang perasaan (senang, sedih, canda, tawa dan kecewa), serta perilaku mereka.
          Memang Tuhan itu adil, dimana manusia diciptakan dengan beragam jenis, aku akui itu semua. Namun ada yang mengganjal pada diri ini mengapa? Kenapa? Bagaimana? Kok bisa sih? Dan lainnya. Semakin ku memperdulikan sekitar semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala ini?, suatu waktu aku bertanya kepada manusia yang lain “ kenapa sih kita perlu berfikir? Padahal semakin kita berpikir semakin banyak pertanyaan yang kita pikirkan” dan beliau menjawab “ya karna kita manusia, tugas kita ya berfikir” dan seketika aku tertegun, “hmmm.. ya masuk akal jawaban mu”. Tapi masih ada hal yang mengganjal di diri ini dan pikiranku. Hufftt sangat ribet ya saya, ya emang ribet hehe..
          Beberapa pertanyaanku yang sering terlintas dikepala orang yang mencari jawaban pasti dan memang pasti ini adalah mengenai manusia, kenapa sih banyak manusia yang gak bahkan susah jadi dirinya sendiri, sampai aku banyak menemukan orang – orang yang bertopeng untuk melakukan hal baik padahal dia gak suka dan lebih parahnya lagi jika kebalikannya?, kenapa sih manusia demi mencari nama sampai lupa dengan kebaikan orang lain?, kenapa sih manusia selalu mengatakan sayang dan melindungi tapi kenyataannya mala sebaliknya? Kenapa sih manusia selalu menganggap rendah orang lain yang padahal mereka belum mengenal orang tersebut bahkan orang tersebut pada kenyataannya lebih baik darinya?, kenapa sih manusia selalu ambisi dengan tak kenal cara baik sehingga yang merasa lawannya menjadi hambatan untuknya?, kenapa sih manusia ingin niat berbuat baik tapi sering dimanfaatkan oleh orang lain?, kenapa sih manusia tidak ada dan tidak pernah ku temui setulus hati memberikan kasih sayangnya kepada orang lain sekalipun anak terhadap orangtuanya atau sebaliknya, sempat aku membandingkan manusia dengan seekor hewan yang jauh lebih baik seperti kasih sayang hewan seperti kucing, singa dan lainnya sampai ku sempat terlintak dibenakku apa benar ada arti kasih sayang dan cinta yang sesungguhnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan di kepala batu ini.

           Di dalam beberapa disiplin ilmu yang ku pelajari dan referensi bacaan yang telah ku baca, secara teoritis manusia adalah makhluk yang sempurna. Manusia bertugas sebagai pendamai dan penyebar kebaikan untuk sesama manusia. Namun itu sepertinya hanya sebuah dongeng Cinderella sepatu kaca aja. Aku percaya dengan suatu hal jika itu masuk dalam logikaku, mengapa hal ini belum bisa ku jawab sendiri padahal diriku sendiri adalah salah satu jenis manusia dari beribu manusia. Sampai kapan semua pertanyaanku akan terjawab? Setiap ada jawaban pasti aku pikirkan kembali dan muncul kata tapi..tapii.. dan tapi..., saat ku hubungkan dengan kitab suci yang ku jadikan pedoman hidup yaitu Al – Qur’anul Kariim, semua mengajarkan tentang kebaikan, ya selaras dengan teori dunia yang ku baca, dan timbul lagi kenapa manusia...? kenapa dan kenapa?. Sampai aku bingung dengan sendirinya atas pertanyaan dikepala ku. Dan pada akhirnya aku hanya bisa memberikan senyum dan tawa untuk ku dan untuk orang lain yang aku belum tau kepada siapa senyum dan tawa itu aku berikan, kepada jatidiri asli manusia itu atau dengan bayang semu saja. Ya Wallahu’alam bish shawab. Be Your Self and You Can Do It! J

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Tapi dan tapi...bakal jadi pencarian yang tak pernah usai. Seperti Socrates ia hanyalah seorang pencari kebijaksanaan.

    BalasHapus
  3. ya memang benar pencari kebijaksanaan, namun kebijaksaan membutuhkan logika yang nyata walaupun tidak sepenuhnya kenyataan bisa masuk ke logika manusia.

    BalasHapus