Selasa, 11 Februari 2020

Bukan Sekedar Emansipasi Perempuan

       Aku dilahirkan di keluarga sederhana dan tanpa sosok seorang ayah. Aku ditakdirkan lahir dari seorang ibu yang tidak sesempurna seperti ibu yang lainnya. Namun aku tetap bersyukur pada Tuhan yang memberikan kesempatan untuk melihat betapa indah nan kejamnya Dunia. Aku dibesarkan oleh seorang nenek yang sangat menyayangiku dengan sepenuh hati dan keluarga besar nenek ku yang beragam jenis karakter. Dikehidupan itulah aku menjalani sehari – hari dengaan penuh keceriaan dan kegembiraan dari ketidaktahuan di umur ku yang masih belia. Semakin dewasa dan bertambah umurku, semakin ku mengerti arti kehidupan ini yang penuh teka – teki, kemunafikan dan kekejaman. Bermula ku sekolah dasar yang mana  aku merasa aku manusia paling beruntung dimana sejak kelas 1 SD diriku sudah di ajari oleh kehidupan dimana masa itu adalah masa emas bagi anak. Pada masa itu aku sudah dilepas oleh keluarga ku, hanya uang jajan yang tersisihkan oleh nenek ku untuk makan di sekolah, urusan sekolah aku di tuntun oleh tante ku yang penuh emosi sehingga melekat di benakku hingga saat ini, walaupun begitu diriku harus mengucapkan terimakasih kepadanya, berkat beliau aku menjadi perempuan pemberontak saat ini. Singkat cerita sejak SD sampai SMK aku adalah anak beruntung yang mana aku tidak merasakan didikan mengenai pendidikan intelektual dan bersikap dari keluargaku sendiri hanya didikan agama yang nenekku patenkan kepada ku, yang mana mengharuskan aku untuk mencari pelajaran segalanya di kehidupan sehari-hari. Dan tak heran aku banyak teman yang baik maupun yang buruk secara subjektif, kepada merekalah aku belajar menjadi perempuan kejam, ya kejam untuk diriku sendiri.
            Terdengar miris memang aku dewasa sebelum waktunya, aku dihadapkan masalah yang seharusnya umurku belum pantas menerima masalah saat itu. Aku iri dengan kehidupan teman – teman ku yang di tuntun menjalani hidup ini oleh orang tuanya tetapi aku harus mencari jati diriku sendiri tanpa ada yang menuntun dengan mengandalkan akal pikiran sendiri dan mendengarkan nasihat yang menurut ku bisa di ikuti seperti guru dan pelajaran hidup teman-temanku yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Masa SD sampai Kuliah aku lalui dengan tergopoh – gopoh tidak bergantung pada siapapun yang mana sejak SD – SMP diriku sudah mencari nafkah untuk diriku sendiri untuk kebutuhan sekolah (jajan, alat tulis, study tour dan lainnya), dan sejak SMK lah saat terberatku dimana nenek ku wafat dan menjadikan diriku dan ibu tidak bisa mengandalkan siapapun baik segi ekonomi maupun alarm ketika ku melakukan kesalahan. Saat itulah aku mulai menafkahkan ibuku dan memenuhi kebutuhan sekolah SMK - kuliah ku dengan jerih payah ku sendiri, sampai saat ini belum lagi masalah tetangga yang suka mengadu domba ku dengan keluarga itupun aku hadapi sendiri hiingga ku merasakan dimusuhi di keluarga besar kakek dan nenek ku. Ya aku tidak munafik memang berat bahkan kejam dunia ini tapi berkat itu semua yang menajadikan ku perempuan saat ini yang pemberontak, kejam, keras kepala, melow dan selalu menyatakan jika benar adalah benar tidak memandang dia siapa dan umur berapa. Aku sangat bersyukur diberikan kekuatan sampai saat ini, aku sayang sekali pada Tuhan tapi apalah dayaku kadang terbuai dengan nikmat dunia. Berat dan sungguh berat hidup ini kejam sungguh kejam hidup ini, tapi inilah kehidupan yang harus ku jalani, aku hanya manusia biasa yang berusaha untuk membangun diri sendiri dan berguna untuk orang lain walupun kebaikan tidak selalu disambut baik oleh orang tersebut. Maka tak heran banyak orang bilang aku manusia cerdas, ceria sopan dan kebaikan lainnya, itu semua adalah caraku untuk mengatasi kekejaman dunia ini namun aku menikmatinya, jika dulu aku membenci politik aku rasa sejak kita dilahirkan sudah berpolitik maka dari itu aku tertarik dengan hal semacam ini. Kadang orang lain selalu mendorong ku untuk membalas hal yang menurut ku buruk namun aku selalu menolak karena aku tahu diriku jika sudah melakukan akan merubah jati diriku (lebih kejam).
           Tak sendikit orang yang merendahkan ku bahkan keluarga ku, itu salah satu power ku menjadi sekarang, aku adalah perempuan pendendam, akan ku balas orang yang merendahkan ku dengan segala cara namun tidak dengan cara murahan. Dan banyak orang terheran pada ku mengapa aku terlalu cuek dengan percintaan. Aku hanya menjawab hidup saya bukan dipenuhi dengan cinta tapi dipenuhi dengan perjuangan, jikalau aku iba dengan orang yang menurut ku senasib ataupun lebih miris dariku itulah rasa cintaku yang sesungguhnya. Cinta bukanlah sekedar kata – kata, jika itu terjadi pada ku mungkin hanya sesaat, karna banyak kata – kata manipulatif untuk membuat orang senang yang berujung untuk menjatuhkan, kalaupun benar aku  mencintainya ada sesuatu yang spesial pada manusia itu.  Jika ada statement perempuan itu berorientasi pada materi aku hanya menjawab materi hanya hal kecil di hidup ini karena aku yakin setiap manusia sudah diberikan rezekinya masing – masing oleh Tuhan maka pernyataan tersebut akan aku bantah keras. Yang menurut ku penting adalah Perlakuan kita terhadap orang lain karena akan mempengaruhi dari segalanya baik IQ, SQ maupun EQ. Aku berharap yang membaca tulisan ini peka terhadap orang lain, peka bukan berarti BUCIN.
         Hikmah dari semuanya adalah menjadikan aku sebagai perempuan kuat, tetap harus merendahkan diri dan membuktikan kepada dunia bahwa aku bisa melakukan segala hal tanpa bisa dipandang sebelah mata dan aku tidak takut miskin karena aku sudah terlatih melawan kemiskinan, aku tidak takut ditinggal karena sejak aku di dunia ini aku sudah ditinggalkan. Yang aku takutkan ketika diriku sudah di obrak abrik oleh pengaruh orang lain dan hilang jati diri karena aku sudah membiasakan diri merdeka sejak fikiran dan hati sehingga segala apapun keputusan yang aku ambil akan kuhadapi resiko tersebut ini semua bukan semata –mata karena emansipasi perempuan, ini adalah cara untuk bertahan hidup di dunia yang indah nan kejam. Jadi untuk para perempuan di luar sana tak perlu risau jika kau merasa benar dan ditinggalkan, lakukan sesuai hati, jikalau itu terjadi kembali di diriku dan tak sesuai tulisan ini, itu adalah kesalahan terbesar dihidupku. Tetap bersyukur, berdoa, ikhlas namun jadi perempuan cerdas ( Harimau adalah salah satu gambaran terbaik untuk hidupku). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar