Sabtu, 17 Desember 2016

Semangatmu Berarti Bahagia ku

SAMA TETAPI BERBEDA

Perkenalkan namaku Novi Endah Widiastuti seorang mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, kegiatan ku selain kuliah yaitu berorganisasi dan mengajar sebagai mata pencaharianku untuk menghidupi kehidupan ku. Cerita ini aku angkat dari pengalaman ku yaitu mengajar di suatu desa terpencil yang terletak di Jawa Barat, Desa Purasari dan mengajar privat di dekat rumaku, Jakarta Selatan.

Ceritaku ini berawal dari desa yang sangat ku cintai yaitu desa Purasari disana aku dan teman – teman ku melakukan pengabdian selama 17 hari di kepanitiaan PNJ Mengajar. Dalam kepanitiaan ini kegiatan kami sangat padat tetapi rutinitas yang kami jalani adalah mengajar adik – adik desa purasari yaitu di SDN 02 Purasari. Disana kami mengajar seperti guru biasanya yang setiap hari masuk kelas pukul 07.00 pagi dan matapelajaran yang biasanya dipelajari oleh anak- anak SD umumnya.  Memang tempat ini jauh sekali dari ilmu pengetahuan yang memadai letaknya pun sulit dijangkau oleh masyarakat lain dan butuh perjuangan untuk mencapai lokasi ini. Sebelum kami melakukan pengajaran, tim pengajar khususnya sudah mempersiapkan bahan ajar yang nanti akan diberikan oleh adi-adik Purasari. Kami pun sudah mempersiapkan alat – alat yang akan digunakan untuk bahan pembelajaran disana. Jadwal pengajar untuk mengajarpun sudah kami siapkan sesuai dengan kebutuhan setiap kelasnya. Semua persiapan mengajar sudah kami persiapkan dan kami perkirakan sesuai dengan kondisi disana.

Setiba kami di desa Purasari kami mulai beradaptasi dengan warga disana dan pastinya dengan adik-adik lucu di sana. Dan kami pun mempersiapkan diri untuk mengajar esok hari.  Di SDN 02 Purasari memang fasilitas belajar kurang memadai dan sangat memprihatinkan mungkin kalau jujur aku sangat sedih, melihat kondisi belajar mereka dengan fasilitas yang sangat miris beratap bolong – bolong, lantai tidak berubin, tidak ada toilet, pagar pun tidak ada, fasilitas kelas banyak yang rusak, ini sangat miris apabila kita bandingkan dengan sekolah di Jakarta yang fasilitas sekolah memadai dan tentunya layak pakai. Ini beberapa penilaian ku tentang sekolah di desa Purasari. Setelah beberapa hari kami mengajar kami selalu melakukan evaluasi tentang pengajaran dikelas. Hasil evaluasi yang aku terima dari tim pengajar yaitu sulitnya daya tangkap anak – anak dalam menerima pelajaran, ketertinggalan pelajaran dengan pelajaran yang ada di jakarta (kurikulum tidak sesuai ketentuan pemerintah), lebih suka bercanda dibandingkan belajar, masih membiasakan jajan tidak pada jam nya, belum percaya diri dan kurangnya perhatian oleh orang tuanya. Bahan evaluasi ini selalu kami cari tahu bersama apa solusi untuk mengurangi masalah dalam pendidikan di sekolah tersebut. Lalu selain rutinitas bealajar di sekolah ada kegiatan yang di rancang oleh panitia PNJ mengajar yaitu Hotter (homework together) yaitu belajar bersama yang bersifat non formal disini kami semua panitia khususnya aku dapat mengamati potensi adik – adik di Purasari dan sifat mereka secara langsung. Mereka sangat senang dengan kegiatan ini, Hotter dilakukan pada malam hari, sungguh luar biasa mereka untuk dapat hadir ke tempat Hotter yang notabennya rumah mereka sangat jauh dengan tempat Hotter bahkan mereka harus melewati sawah dan hutan pada malam hari. Namun semua itu tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir Hotter agar mendapatkan ilmu yang mereka belum ketahui dan sampai mereka menginap ditempat Hotter karena pulang Hotter sudah larut malam.  Dalam pengamatanku dalam kegiatan Hotter yaitu mereka sebenarnya mampu dalam ilmu pengetahuan bahkan lebih dari anak jakarta yang hidupnya selalu mewah karena mereka sangat bersemangat dan berjuang dalam menuntut ilmu namun semua itu tidak mereka ketahui, mereka hanya membutuhkan motivasi dari orang lain. Aku melakukan penelusuran dengan memasuki kelas-kelas untuk mengetahui bagaimana mereka sedang belajar dan cara tim pengajar mengajar aku merasakan haru yang sangat mendalam melihat semangat belajar mereka dikelas dengan keadaan kelas yang terbilang tidak layak pakai terutama kelas 1 dan kelas 2 yang menurut ku mereka membutuhkan kelas yang nyaman untuk belajar, dan menurut ku lingkungan berpengaruh terhadap daya pikir seseorang. Setiap hari aku selalu datang ke sekolah tersebut walaupun aku tidak mengajar secara penuh, aku selalu bercengkrama dengan adik – adik di SDN 02 Purasari dan mereka menceritakan kehidupan sehari – harinya mungkin kalau kalian mengetahui secara langsung akan merasakan sama dengan ku yaitu sedih dan menangis. Mereka selalu berangkat sekolah pukul 05.00 dari rumah mereka dan mereka harus melewati sawah, hutah, sungai bahkan jurang yang sangat menyeramkan semua itu itidak menjadi alasan untuk mereka tidak berangkat sekolah. Mereka berangkat sekolah pukul 05.00 – 07.00 untuk sampai kesekolah. Dan lebih memprihatinkannya lagi mereka banyak yang tidak memiliki sepatu yang layak untuk dipakai dengan kata lain mereka berangkat sekolah tidak menggunakan alas kaki. Menurutku itu sangat bahaya bagi mereka tapi mereka mengatakan bahwa itu adalah kebiasaan sehari – hari, sanagt Mengagumkan!

Ku kira disana aku akan mengajar TAPI disana aku Belajar!, mereka mengajarkanku Kesederhanaan, Semangat, Berjuang, dan Riang Gembira.
Aku BANGGA , aku SAYANG, dan aku CINTA mereka ( adik – adik purasari ) yang penuh semangat juang untuk menuntut ilmu.

Namun aku mendapatkan perbedaan saat aku mengajar di Jakarta, semua yang aku rasakan di desa Purasari berbalik dengan kekecewaan. Banyak orang beranggapan setiap orang yang mendapat kemewahan akan giat dalam menuntut ilmu dan menjamin kesuksesan. Jika ada yang bertanya seperti itu kepadaku tentu aku akan menjawab TIDAK!!!

Ini aku rasakan setelah aku mengajar  privat di Jakarta, keluarga murid ku ini terbilang kaya raya dan anaknya pun sangat manja, minta ini dan itu selalu diberikan oleh keluarganya terutama ibunya, memang anak ini adalah anak tunggal.  Namanya yaitu Farel, ia duduk dibangku kelas 2 SDN di jakarta. Aku akui anak ini pintar, daya tangkapnya pun sangat kuat (cekatan) tapi disisi lain aku tidak menyukai cara ia belajar, Farel mau belajar jika kemauannya dituruti seperti ingin jalan –jalan naik kreta api baru ia mau belajar bahkan mau sekolah pun seperti itu, harus kemauannya dituruti  apabila tidak dituruti ia tidak mau belajar bahkan tidak mau sekolah. Setiap malam aku mengajari pelajaran yang akan dipelajari esok hari kadang ia mau belajar dan kadang tidak, ia selalu memngatakan “CAPEK, GAK MAU SEKOLAH” ucapan itu selalu aku dengar dari mulut dia. Padahal hidup mewah, fasilitas belajar sangat memadai dan dukungan orang tua pun ia dapatkan. Itu yang membuat aku kecewa dan miris. Saat aku mengajari Farel kadang teringat saat aku mengajar di desa Purasari, sangat jauh perbedaan mereka padahal mereka serba kekurangan tapi semangat mereka yang membuat mereka kaya namun sebaliknya anak murid ku Farel serba kecukupan, tapi semangat belajarnya sangat rendah bahkan tidak ada semangat dalam menuntut ilmu.

Mereka semua sama yaitu siswa – siswi Sekolah Dasar namun yang berbeda adalah semangat juang mereka, kesederhaan, Riang gembira dalam menjalani kehidupan sehari – harinya dan tentunya dalam menuntut ilmu untuk masa depan mereka.
“Kemewahan tidak menjamin kesuksesan, kemodernan tidak menjamin kemampuan dan kemampuan tidak menjamin kesuksesan , hanya KEMAUAN yang KUAT lah yang mampu mengalahkan KEMAMPUAN dan meraih KESUKSESAN!!”

“Kebahagiaan hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati.”

 “Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.” 

“Gantunglah cita-cita mu setinggti langit! Bermimpilah setinggi langit.jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang – bintang” (Soekarno).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar